Halaman

Rabu, 15 Februari 2012

Mau Kuliah Kemana?


UJIAN Nasional atau UN pada SMU telah dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia. Standar kelulusan pun telah dinaikkan oleh Departemen Pendidikan Nasional dari nilai 5.25 pada setiap pelajaran di tahun kemarin menjadi nilai 5.5 pada setiap mata pelajaran untuk tahun ini. Pengumumamn kelulusan pun sudah dilakukan.
Dalam menghadapai UN tempo hari, tantangan yang cukup berat bagi guru dan sekolah terkait untuk membimbing dan mengarahkan muridnya agar memenuhi standar kelulusan SMU. Hampir di setiap sekolah telah mengadakan bimbingan belajar tambahan bagi murid kelas XII pada jam pelajaran nol ataupun setelah jam pelajaran usai. Lembaga-lembaga bimbingan belajar pun berlomba-lomba memberikan metode yang jitu untuk menyelesaikan soal-soal yang akan diujikan pada UAN, ada metode penalaran, smart solution dan lain sebagainya dengan harapan akan memberikan kemudahan dalam mengerjakan soal-soal UAN.
Demikian pula dengan penyelenggaraan try-out ujian UN yang diselenggarakan oleh elemen masyarakat lain mulai bermunculan menjelang pelaksanaan UAN. Bimbingan-bimbingan tersebut akan tidak efektif bila kemudian para pelaksana UAN (murid yang bersangkutan) kurang merespon baik atau apatis terhadap pelaksanaan UAN, karena pada hakikatnya kelulusan UN tergantung pada kemauan dan kemampuan dari murid yang telah terdaftar sebagai peserta UN.
Salah satu kota impian para lulusan SMU di seluruh penjuru Indonesia adalah dapat menempuh kuliah di kota pelajar Yogyakarta dan Bandung. Tidak terkecuali dengan para lulusan di luar pulau Jawa. Tetapi sayang, hampir dipastikan bahwa calon mahasiswa yang akan menempati bangku perkuliahan di universitas negeri ataupun swasta terkenal di Yogyakarta maupun Bandung adalah pelajar-pelajar SMU dari kota Yogyakarta sendiri dan kota sekitarnya, hanya sekitar 20 hingga 30 persen berasal dari luar pulau jawa. Lalu akan kemanakah mereka yang telah berniat untuk menuntut ilmu didaerah tersebut tetapi terhalang dengan batas kuota masuk calon mahasiswa?
Tidak sedikit para calon mahasiswa tersebut akan menerima nasib menjadi mahasiswa percobaan di universitas yang tidak bertanggung jawab terhadap kelulusannya kelak. Ini adalah salah satu contoh bagaimana nasib lulusan SMU luar Jawa yang mencoba untuk kuliah di Yogyakarta, Bandung atau jakarta. Kenyataan inilah yang harus mulai diperhatikan oleh orangtua atau pihak sekolah agar para lulusan SMU dapat diterima sebagai mahasiswa di universitas impiannya. Namun lain hal adengan apa yang di sampaikan oleh pendiri MURI yaitu Jaya Suprana saat pemberian anugrah MURI untuk LP3I di sela rakernas LP3I baru-baru ini, ia megatakan “ Banyak universitas maupun lembaga pendidikan yang tidak bertanggung jawab terhadap lulusannya, mereka hanya menjadikan ajang bisnis yang jauh daripada pembinaan lanjutan sehingga banyak lulusan di Universitas ternama baik pemerintah maupun swasta yang ujung-ujungnya hanya pengangguran” Jaya melanjutkan, “Justru pendidikan yang bertanggung jawab itu adalah yang mengarahkan lulusannya ke dunia kerja maupun dunia usaha, bukan melepas begitu saja” tuturnya dengan semangat menggelora, dari pernyataan Jaya Suprana tersebut tentu membuka mata kita betapa banyaknya pengangguran terdidik di negeri ini, tentu agar tidak terjebak polarisasi bisnis pendidikan yang tidak bertanggung jawab tersebut perlu kiranya sebelum menentukan pilihan dimana anda kuliah harus menyusun strategi terlebih dahulu.
Menyusun Strategi
Ada berbagai cara yang dapat digunakan bagi murid, orangtua dan sekolah untuk mulai menyusun srategi agar dapat kuliah di kampus yang diharapkan. Pertama, mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang lembaga pendidikan yang diinginkan. Mulai dari statusnya (terakreditasi atau belum), Jurusan apa saja yang terdapat di dalamnya, siapa saja dosen-dosen atau rector yang terlibat dalam proses pembelajaran, bagaimana system pembelajarannya (system paket atau SKS) hingga bagaimana nasib para lulusanya. Pencarian ini dapat dilakukan melalui website, brosur-brosur yang disebar di sekolahan atau iklan-iklan yang ada di koran lokal maupun nasional.
Kedua, datang langsung meninjau lokasi yang akan dituju, karena dengan datang langsung ke lokasi maka akan didapatlah penilaian bagaimana kondisinya, fiktif atau tidak. Cara kedua ini tidak harus dilakukan sendiri apabila terkendala dengan jarak tempuh yang jauh, tetapi dapat pula dilakukan dengan meminta bantuan orang lain atau saudara yang tinggal di tempat perkuliahan tersebut berada.
Ketiga, sering meng-update informasi pendaftaran calon mahasiswa di tahun yang sama dengan tahun kelulusannya jauh-jauh hari sebelum hasil ujian UN diumumkan serta lihat alumninya. Pada dasarnya, setiap kampus akan mencari dan menyeleksi calon mahasiswa yang mampu melalui ujian seleksi masuk yang diadakan oleh di kampus tersebut. Inilah yang membuat sebuah lembaga pendidikan mengadakan pendaftaran calon mahasiswa baru dari periode pendaftaran gelombang pertama hingga gelombang ketiga dengan rentang waktu yang jauh. Tetapi, pada setiap periode pendaftaran antara gelombang satu, dua dan tiga, akan terjadi perbedaan yang sebaiknya menjadi pertimbangan.
Pendaftaran gelombang pertama akan menyediakan bangku kuliah yang lebih banyak daripada bangku kuliah pada gelombang kedua dan ketiga tetapi sayang hal ini berbanding terbalik dengan jumlah pendaftarnya (biasanya gelombang pertama akan sepi dari pendaftar dan pada gelombang ketiga akan terjadi pembengkakan pendaftar), disamping itu yang tidak kalah penting adalah pada gelombang pertama akan dikenakan biaya perkuliahan yang lebih murah dibandingkan dengan gelombang kedua dan ketiga.
Keempat, bila nilai-nilai pada raport mendapatkan rata-rata di atas angka 7 maka sebaiknya sesegera mungkin untuk mencoba mendaftar melalui jalur prestasi yang biasanya dapat diikuti beberapa bulan sebelum Ujian Nasional dilakukan. Kelebihan dari jalur prestasi adalah bebas dari biaya pendaftaran, tes tertulis dan mendapatkan potongan dari biaya administrasi lainnya (seperti uang gedung dan lain sebagainya) tergantung dari kebijaksanaan lembaga tersebut.
Kelima, Pilih lembaga pendidikan yang bertanggung jawab terhadap lulusannya dengan memberikan jaminan kualitatif maupun kuantitatif baik pada program perkuliahan maupun setelah lulus, sebagai contoh di LP3I setiap siswa yang ingin kuliah di LP3I, Manajemen LP3I memberikan jaminan penenempatan kerja dan tertulis di atas materai, sehingga sesuai apa yang di sampaikan Jaya Suprana yaitu “Lembaga pendidikan yang bertanggung jawab”. Semoga tidak bingung lagi.(Ac

Tidak ada komentar:

Posting Komentar