Halaman

Rabu, 30 Juni 2010

Habis Makelar Kasus Terbitlah Makelar Cinta

BAru-baru ini negri kita di hebohkan dengan kasus penyuapan pajak Gayus Tambunan yang menyeret nama-nama besar di petinggi kepolisian, perusahaan raksasa maupun pejabat dan konglomerasi lainnya, betapa dahsyatnya perilaku para rampok berdasi di negeri yang kaya dengan kemiskininan ini, uang ratusan milyard menjadi milik pribadi bahkan triliun, apapun abisi untuk pemenuhan kebutuhan hidup di dunia pasti tercukupi, namun anehnya mereka selalu merasa kurang.

kalo melihat keadaan masyarakat kita yang serba kesulitan, jangankan memiliki mobil dan rumah mewah, buat kehidupan sehari-hari saja mereka sulit, untuk makan banyak yang ala kadarnya, hanya sekedar makan saja sudah cukup, maka wajar jika di beberapa daerah masih yang mengalami gizi buruk khususnya untuk balita ataupun batita, mereka saat ini sulit untuk melanjutkan anak-anaknya masuk sekolah karena biaya relatif mahal, walaupun pemerintah menggembor-gemborkan program pendidikan yang gratis, namun ternyata semua hanya bulshit...coba saudara tanya berapa biaya masuk anak SD sekarang?, berapa biaya masuk anak SMP, berapa biaya masuk anak SMA?..sungguh memperihatinkan , dibalig glamoritas para pejabat yang korup ini dan mafia yang tiada henti menggerogoti pundi-pundi kehidupan rakyat makin sengsara, makin sulit, makin terjepit.

Ketimpangan ekonomi di negeri antah berantah ini lambat laun akan menjadi pendulum gundukan es yang suatu ketika akan muncul ledakan maha dhsyat akibat perilaku yang ada di ujung es yang tidak pernah mau mencairkan diri terhadap kesulitan rak yat saat ini.

Belum habis cerita MARKUS yang menghebohkan dunia dengan memposisikan indonesia pada suatu majalah internasional bertengger posisi Lima besar negara terkorup di dunia...lagi-lagi penghancuran sisi moral para selebrity kita yang selalu menjadi konsumsi masyarakat negeri yang lebih suka menoonton ini...kasus video porno Aril, Luna,Cut Tari ,Bunga Citra Lestari dan sederet wanita cantik lainnya makin mempertegas kebobrokan moral bangsa, tentu dampak dari beredarnya video esek-esek tersebut dalam waktu 30 hari saja sudah terjadi sedikitnya 42 kasus pemerkosaan yang terjadi dan dilakukan para remaja bahkan di bawah umur.mau dibawa kemana masa depan bangsa?

makelar kasus belum habis..makelar cinta tumbuh subur..kalau kita buka kedok para pejabat negara, anggota dewan yang dari daerah khususnya datang ke jakarta atau ke kota-kota besar bahkan ke luar negeri dengan alasan kunjungan dan study banding..ujung-ujungnya mereka mencari wanita untuk dijadikan objek sex dengan menggunakan uang rakyat, bahkan hampir rata-rata anggota dewan melakukan hal tersebut tanpa memiliki sedikitpun beban moral sebagai wakil rakyat, rupanya jelas semua elemen terlibat, jika kasus aril dijadikan pijakan untuk mempertegas supremasi hukum, sudah saatnya seuruh aparat yang memiliki moral bejat pun di hadapkan persoalan hukum yang sama dan saya yakin di atas 50 % para pejabat negara baik eksekutif maupun legislatif akan tersandung kasus "makelar cinta"

Konglomerasi...Apa Konglomerat Baru?

Konglomerat baru. Itulah yang diusulkan Mochtar Riady. CEO ideal pilihan majalah itu punya ide cukup inovatif. Sepert I biasanya, ide Mochtar selalu baru dan penuh daya terobos. Sejak dari tabungan Tahapan Dukuh Lippo ( Lippo Village ), sampai yang terakhir asuransi Warisan, Mochtar selalu inovatif.
Kali ini ia bicara soal perlunya ditumbuhkan pengusaha kelas menengah jadi konglomerat baru. Teori yang dipakai sederhana saja. Menghadapi globalisasi, yang akan membuat dunia tanpa perbatasan, Indonesia perlu lebih banyak lagi konglomerat. Pengusaha kecil tidak mungkin bisa tahan ketika berhadapan dengan multinasional. Padahal, persaingan global menuntut ke situ.
Mochtar mengacu pada pemerintah Singapura dan Malaysia, yang pada saat ini menggalang perusahaan nasionalnya supaya lebih kuat bertempur di luar negeri. Indonesia, katanya , harus membuat perusahaan “papan tengah” kuat agar bisa menarik perusahaan kecil ke atas. Sungguh suatu ide menarik . Apalagi gagasan itu datang dari orang yang sudah jadi konglomerat dan ingat pada kekuatan ekonomi nasional secara makro.
Saya ttidak tahu bagaimana persisnya usaha yang harus dilakukan untuk mengongkretkan ide Mochtar ini. Selama ini kita kita hanya bicara tentang perusahaan swasta, BUMN, dan koperasi sebagai tiga pilar ekonomi nasional. Sepintas persepsi yang ada di benak kita: perusahaan swasta paling efisien, produktif, dan di manajemeni secara baik. BUMN adalah perusahaan yang punya hak monopoli, birokratis, dan kurang efisien: sedangkan koperasi adalah badadn usaha yang dimiliki para pribadi, kecil, tida dimanajemeni dengan baik, dan sulit berkembang.
Lantaran kita memAndang pelaku ekonomi secara terkotak seperti ini , maka lantas timbul konotasi bahwa konglomerat hanya perusahaan swasta. BUMN, walau besar dan sering punya hak monopoli, dilihat sebagai wajar-wajar saja. Bukankah Pasal 33 UUD 1945 mengatakan bahwa cabang-cabang produksi penting dan menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai negara? Bukankah BUMN punya misi pengabdian masyarakat selain harus tetap dapat untung ? Sedangkan koperasi jadi pelaku ekonomi yang perlu dibina, dibantu, dan dibesarkan supaya bisa sejajar dengan kedua pelaku ekonomi lain. Pada kenyataannya, melakukan sterotyping seperti ini bisa berakibat misleading.
Pertama hanya sedikit sekali perusahaan swasta yang bisa disebut konglomerat. Baik dari ukuran besar usaha maupun banyak jenis usaha, lebih banayak perusahaan swasta menengah, lebih-lebih swasta kecil, dibandingkan dengan yang besar. Apalagi definisi konglomerat sering disalahartikan. Konglomerat adalah perusahaan yang punya usaha berbagai sektor yang tidak ada hubungan satu sama lain. Jadi, konglomerat sebenarnya adalah suatu kelompok perusahaan pada berbagai bidang usaha ( diversified companies ).
Jadi, perusahaan sebesar apa pun, kalau hanya bergerak di satu bidang saja bukan konglomerat . Sebaliknya, perusahaan kecil yang punya usaha pencetakan, taksi, dan warung tegal bisa disebut konglomerat.
Begitu juga dengan BUMN. Ternyata tidak semua BUMN punya hak monopoli dan manajemennya tidak baik dan kurang produktif. Bank-bank pemerintah pada saat ini tsedang berjuang keras bersaing dengan swasta. BUMN, seperti TELKOM, sedang melakukan reengineering dalam menghadapi perubahan global yang cepat. Begitu juga dengan PT Indosat, yang terus-menerus berusaha meningkatkan pelayanan 001-nya. Di BUMN saya juga melihat ada banyak aset sumber daya manusia yang masih muda-muda dan punya visi jauh ke depan. Mereka sebenarnya punya kemampuan hebat kalau pada suatu saat diberi kesempatan.
Bagaimana dengan koperasi? Inilah jenis usaha yang selalu dibina suatu departemen khusus. Menterinya gonta-ganti. Begitu juga dengan nama departemennya. Kali ini, pembinaan koperasi dibarengkan dengan usaha kecil. Koperasi dan usaha kecil boleh dibina. Tapi jangan sampai terjadi over-managed but underled. Nanti malah tidak pernah jadi besar. Lihatt saja, Forrest Gump, yang polio di waktu kecil . Dia justru bisa lari kencang bukan karena dituntun, melainkan karena dibiarkan “jatuh-bangun” oleh ibunya, diberi semangat oleh pacarnya, dan dikejar oleh gerombolan anak-anak nakal.
Jadi, menafsirkan ide Mochtar Riady jangan sampai salah. Yang perlu digalang bukan cuma usaha menengah swasta, karena konglomerat bukan monopoli swasta. BUMN dan koperasi juga bisa jadi konglomerat kalu sudah diversifikasikan usaha. Dan, usaha menegah milik siapa pun, yang belum diversified, juga perlu digalang. Untuk bisa memenangkan persaingan global, sebuah perusahaan tidak mesti diversified lebih dulu, bahkan sering justru harus memfokuskan diri sendiri pada bisnis pokok ( core business ).
Satu lagi yang penting, perusahaan menengah tersebut sudah terbukti bisa hidup dan berjuang dalam suatu mekanisme pasar bebas. Bukan tumbuh karena dilindungi.

Apa itu Belanja?

Ini adalah The Buzzword of Today di dunia pemasaran. Saya belum menemukan terminologi yang tepat dan pas dalam bahasa kita, tanpa kata-kata itu kehilangan makna. Saya pikir, apa salahnya untuk sementara menggunakan kata-kata tersebut supaya bisa menghayati maknanya. Sebab, itulah gejala yang memang terjadi saat ini.
Kini konsumen makin pintar menilai benefit yang ditawarkan dibandingkan dengan harga yang harus mereka bayar. Konsumen Jepang, misalnya, yang selama bertahun-tahun mau membayar harga lebih tinggi utnuk produk yang sama, sekarang sudah tidak mau lagi. Merekamenuntut kualitas tinggi dengan harga yang wajar. Runtuhnya bubble economy merupakan indikator bahwa mereka tidak mau lagi membeli produk yang sama dengan banyak ekstra-yang sebenarnya tidak mereka butuhkan-dengan harga tinggi. Mereka jadi sadar bahwa dengan begitu, nilai sebenarnya yang mereka terima rendah.
Itulah yang menyebabkan makin tumbuh suburnya discount store di sana yang membeli langsung dari supplier, dan menghindari saluran distribusi tradisonal yang panjang dan berbelit. Untuk memberikan suatu nilai yang tinggi kepada konsumen, para pengecer berani memotong distributor yang tidak memberikan nilai tambah sesungguhnya. Di Tokyo, saya melihat sendiri, bagaimana toko-toko eceran diskon, misalnya Aoki dan Aoyama, menjamur dan tumbuh pesat.
Meraka ada di mana-mana dan cuma menjual pakaian laki-laki. Mereka memerangi kemewahan dekorasi interior secara drastis, karena hal terebut tidak memberikan niali sesungguhnya untuk konsumen. Toko mereka rata-rata kecil dan sederhana, dengan demikian bisa menghemat ongkos. Selain itu, mereka juga berusaha mendesain dan membuat produk terbut berdasrkan kualitas tertentu.
Mereka bisa mendikte produsen, karena mereka tahu persis apa yangg benar-benar bernilai untuk konsumen. Selain itu, mereka menguasai akses pada konsumen dengan memiliki banyak toko eceran. Dengan demikian, mereka bisa menggunakan brand-name mereka sendiri.
Di New York, saya melihat gejala sebaliknya. Ada iklan dari sebuah produsen jas yang langsung menunjukkan manfaat bagi konsumen dengan membeli produk mereka dibandingkan dengan merek lain. Iklan tersebut mebandingkan materi yang dipakai, desain yang praktis untuk para eksekutif, garansi yang diberikan, dan kenyamanan yang didapat terhadap harga yang dipasang. Dengan begitu, produsen tersebut lantas mengklaim bahwa merek mereka bisa memberi nilai tertinggi bagi konsumen ketimbang merek lain. Berbeda dengan 'iklim' di Indonesia, mereka langsung comparative-ad dalam hal tersebut.
Dua hal yang saya ceritakan di atas punya 'perbedaan' sekaligus 'persamaan'. Di Tokyo, usaha untuk memberikan value bagi konsumen dilakukan oleh discount store. Di New Yrok, hal itu dilakukan produsen. Jadi, yang mengambil inisiatif berhak memperoleh brand-equity.
Bagaimana dengan Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia ? Apakah konsumen kita masih akan tetap bertahan pada "gensi" atau sebagian besar sudah beralih ke "nilai"? Menurut saya, kita justru harus berpikir sebaliknya. Sebagian besar konsumen kita justru harus berpikir sebaliknya. Sebagian besar konsumen kita justru masih peduli akan "nilai". Para yuppies atau kaum snob di Indonesia jumlahnya belum besar dan mungkin saja mereka tetap kepingin trendy. Dalam arti ingin kelihatan "lain dari yang lain", walaupun harus hidup "di atas kemampuan".
Selain itu, memang ada segmen cherry red on top of the icecream, yang jumlahnya relatif kecil dan lebih image-oriented. Tapi yang harus diingat, globalisasi tidak bisa ditahan. Konsep warehouse-retail, contohnya Makro, yang sudah terbukti sukses, akan terus masuk ke Indonesia tanpa bisa di tahan olehregulasi apapun. Dan sudah terbutki, orang-orang yang berada disegmen cherry red itupun suka belanja di Makro. Saya tidak yakin, apakah mereka memang super-value-oriented atau cuma sekadar trendy. Anjuran saya, adalah pekerjaan rumah bagi semua marketer di Indonesia untuk merenungkan gejala yang juga disebutkan Philip Kolter di Hotel Borobudur, Jakarta, Februari 1994, yaitu Super-Value-Marketing.

Gaza, 12.000 Penghafal Al-Qur'an


GAZA--Hampir 12 ribu penghafal alquran di Jalur Gaza, setelah mereka menyelesaikan tahap akhir pemantapan selama 60 hari berturut-turut. Mereka tersebar pada ratusan pusat penghafal tahfidz Al-Qur’an di Gaza. Termasuk kamp-kamp pengungsian yang dijadikan halaqah-halaqah hifdzil Qur’an.

Mereka menamakan halaqah-halaqah tersebut “Generasi Qur’ani Untuk Al-Aqsha” yang berada dibawah pembiayaan pemerintah Palestina pimpinan Ismael Haneya dan langsung dibawah pengawasan departemen waqaf dan urusan agama Palestina.

Halaqah-halaqah ini mendapat sambutan luar biasa dari warga. Mereka berlomba-lomba mendaftarkan anak-anaknya pada halaqah tersebut, hingga banyak diantara para perserta yang ditolak, karena tempatnya sudah tak menampung lagi.

Sukses Besar
Sementara itu, Dr. Thalib Abu Syaer, menteri waqaf dan urusan agama Palestina mengatakan, kami sedang berupaya mewisuda sejumlah penghafal Alqur’an, setelah sebelumnya sukses selama beberapa tahun terakhir dan tentu kami merasa bangga.

Dalam wawancaranya dengan pusat infopalestina, menteri waqaf mengatakan, jauh-jauh hari kami sudah merencanakan dan menyusun perangkat-perangkat yang diperlukan dalam program kamp qur’ani. Ia berharap programnya ini bisa sukses.

Ia menyebutkan, ada sekitar 870 penghafal Alqur’an yang tersebar di 272 pusat tahfidz Alqur’an di Jalur Gaza (Rafah, Khanyunis, Gaza Tengah, Gaza, Gaza Utara).

Ia mengisyaratkan, pihaknya sedang mempersiapkan perhelatan akbar dan spektakuler untuk memberkan penghargaan pada para penghafal Al-Qur’an. Ia mengungkapkan, bangga atas prestasi para penghafal tersebut. Ini adalah kebiasaan yang baik yang digalakan pemerintah Palestina melalui menteru waqaf dan urusan agama secara khusus.

Peningkatan kemampuan dalam membaca dan menghafal
Di sisi lain, Dr. Abdullah Abu Jarbu deputi departemen waqaf mengatakan, proyek hifdzil Alqur’an yang dilakukan departemen waqaf ini bertujuan secara langsung mencetak para penghafal Alqur’an, disamping meningkatkan bacaan dan mereka, melalui penghafalan Alqur’an.

Dr. Abu Jarbu’ menjelaskan, ada sejumlah mahasiswa yang mempunyai predikat al-hafidz. Pihaknya sangat memperhatikan masalah ini dengan memunculkan bakat dan kemampuan mereka dalam menghafal Alqur’an. Mereka dipersiapkan untuk mengikuti kamp musabaqah tilawatil alqur’an regional dan internasional yang dapat mengangkat derajat Palestina di dunia internasional.

Proyek Besar
Di pihak lain, Diyab Radhi, seorang warga Palestina di Gaza sangat menghargai langkah yang dilakukan departemen waqaf dan urusan agama. Ia mengucapkan terima kasih pada pemerintah dalam hal ini, yang telah mengadakan program kamp hifdzil Alqur’an.

Ia menambahkan, kami telah menunggu dengan shabar musim panas tiba untuk memulai proyek besar ini dan agar kita bisa membentuk anak-anak kita dan selanjutnya kita membantu mereka untuk menghafal alqur’an dalam waktu tertentu

Jumat, 25 Juni 2010

Resensi singkat MADILOG

Judul : Islam dalam Tinjauan Madilog
Pengarang : Tan Malaka
Penerbit : Komunitas Bambu, 2000
Tebal Buku : 554 halaman

.

Buku ini pertama kali diterbitkan oleh penerbit “Widjaja” pada tahun 1950. setelah begitu lama dilarang terbit pada masa orde baru, akhirnya buku ini diterbitkan lagi seiring dengan berhembusnya angin reformasi. Islam dalam Tinjauan Madilog yang pertama kali terbit pada tahun 1950 waktu itu dimaksudkan untuk menyicil penerbitan naskah tebal Tan Malaka, Madilog yang saat itu terbentur masalah biaya dan kertas. Bagian Islam dalam Tinjauan Madilog dipilih menjadi bagian yang pertama kali naik cetak. Dalam buku terbitan baru (Komunitas Bambu) ini berisi tulisan Tan Malaka tentang “Islam” serta “Kepercayaan Asia Barat”.

Saat menginjak perkuliahan saya sangat tertarik dengan pemikiran-pemikiran Tan Malaka, beberapa buku Tan malaka yang pernah saya baca diantaranya Gerpolek dan beberapa parsial Madilog karena pada saat itu sangat sulit untuk mendapatkannya secara utuh, hampir setiap bab dari madilog ini menjadi objek kajian dan dasar diskusi para aktivis pergerakan mahasiswa. Tan Malaka yang sangat jenius ini mampu menginterpretasikan sebuah pemikiran dalam tulisan-tulisannya di era pergolakan politik serta ketidak pastian adanya republic ini, tan Malaka mampu membuat tulisan-tulisan yang sangat fenomenal tanpa harus ada referensi yang di genggamnya hanya semata ada dalam analisi dan fikirannya dari berbagai disiplin ilmu yang didapat dari berbagai negeri yang telah dikunjunginya.

Buku Madilog (Materialisme dialektika dan logika) ini terdiri dari beberapa isi antara lain :
1. Logika Mistik
2. Filsafat
3. Ilmu Bukti –Science
4. Teori dan Ujian
5. Cara Berfikir matematika dan penghidupan
6. Development Matematika
7. Sience
8. Bukti
9. Law
10. Metode Induksi,Deduksi, Verifikasi
11. Batasan Sience.Strugle Existence-Adatibility, Natural Selection
12. Dialektika, Logika,Matter, Ide, Iktisar, Masyarakat,seni
13. Logika, (Logika Quality dan quantity, Convertion,Obvertion,Contrapotition,Sylogisme,Metode Eksperimen, Kausalitas,Kritik dll)
14. Pandangan tentang Madilog
15. Tentang Alam, Tuhan,Kegaiban,Hukum sejarah,Kepercayaan dll


KEPERCAYAAN ASIA BARAT

Menurut Tan Malaka, kepercayaan Asia Barat ialah agama Yahudi, Kristen atau Nasrani, dan Islam. Ketiganya pada umumnya disebut Monotheisme, kekuasaan Tuhan. Agama Yahudi terbatas hanya untuk bangsa Yahudi saja, sedangkan agama Nasrani dan Islam dipercaya oleh berbagai bangsa di dunia. Tetapi menurut Tan Malaka, agama Yahudi mengandung inti dan pokok ketiga agama itu yang merupakan pelopor Monotheisme dilihat dari segi sejarah. Ia juga mengkritik kaum orthodox Kristen tentang konsep ke-Esa-an (ialah ke-Esa-an Tuhan, Maryam, dan Yesus). Muhammad S.A.W dengan ikhlas dan terus terang dari awal mengakui Tuhannya Yahudi, Yahwenya Nabi Ibrahim, sebagai Allah Yang Maha Kuasa dan mengakui Nabi Musa, Daud, Sulaiman, dll dengan kitab suci dan segala artinya. Tetapi dengan terang-terangan pula Nabi Muhammad menentang beberapa peraturan Rabbi ( pendeta Yahudi) untuk memuja dan memuji Tuhan oleh peraturan dan kaum Rabbi. Kaum Kristen yang pada awalnya mengolok-olok Muhammad sebagai Rasul Tuhan bahkan pernah menganggap Muhammad sebagai Nabi palsu, pada akhirnya mengakui sikap Muhammad SAW terhadap “Trinitas” (1+1+1=1) itu. Bahkan ahli sejarah yang rasionalis mengakui kebudaayan Islam pada Abad Pertengahan sebagai jembatan antara peradaban Yunani-Romawi dengan peradaban Eropa sekarang serta mengakui besarnya pengaruh pemikir Islam atas gerakan Reformasi Gereja (kaum Protestan melawan kaum Katolik). Dipandang dari kacamata Madilog, ketiga agama tadi mesti dianggap sebagai Tiga Sejiwa yang terletak di atas ladang yang datar. Tak ada yang lebih tinggi dan tak ada yang lebih rendah. Ketiganya berdasarkan kepercayaan dan kepercayaan ini lahir pada masyarakat Yahudi. Begitu pula dengan pengaruh yang ditimbulkan satu sama lain. Tidak mudah menentukan mana yang lebih tinggi dan mana yang lebih rendah dari tiga agama tersebut. Tetapi terhadap intisari kepercayaan itu, yaitu kepercayaan tentang ke-Esa-an Tuhan, adanya jiwa manusia yang terpisah dari badan dan dari akhirnya jiwa ini, dll, ketiga agama tadi tidak mengandung perbedaan yang berarti. Kepercayaan semacam itu tentu masuk golongan yang berada di luar daerah pembahasan Madilog. Kepercayaan itu sebagian besar bersandar atas perasaan, bukan pada panca indera dan akal. Dengan begitu dia tidak masuk ke dalam daerah pemeriksaan Madilog. Terakhir menurut Tan Malaka, agama Yahudi, Nasrani, dan Islam yang ketiganya lahir di masyarakat bangsa Semit ( Yahudi dan Arab) itu dianggapnya Tiga Sejiwa bukan Tiga Serangkai. Jiwa ialah inti pokok ketiga agama itu sama, hanya cabang dan rantingnya saja yang berlainan.

ISLAM

Menurut Tan Malaka, sumber yang diperolehnya dari agama Islam itulah sumber yang hidup. Ia lahir dari keluarga yang taat agama. Orang tuanya adalah muslim dan muslimah yang taat dan tekun beribadah. Sewaktu masih kecil Tan Malaka mampu menafsirkan Al-Qur’an, dan dijadikan sebagai guru muda. Meskipun berbagai pengaruh pemikiran dan peristiwa yang terjadi di Eropa mendera dirinya, tetapi minatnya terhadap Islam terus hidup. Ia sering membaca terjemahan Al-Qur’an dalam berbagai bahasa sampai tamat. Begitu pula dengan buku-buku agama Islam sangat sering dibacanya.
Pada awal-awal bab ini, Tan Malaka mempermasalahkan tentang sejarah Islam yang sepengetahuannya saat itu masih belum ditulis. Menurutnya buku Foundation of Christianity untuk agama Islam belum lahir. Selanjutnya ia menguraikan tentang keadaan masyarakat Arab pada waktu sebelum dan setelah lahirnya Muhammad serta awal mula Muhammad mendapat wahyu dan diangkat menjadi Rasul Allah. Masyarakat Arab pada saat Muhammad lahir adalah masyarakat yang jahiliah, yang banyak membunuh bayi perempuan, yang ramai akan pembunuhan, perampokan, dan masih banyak kejahiliahan lainnya. Lalu diuraikan tentang kehidupan Muhammad dari kecil hingga dewasa yang penuh dengan hikmah dan pelajaran berharga bagi diri manusia itu.
Memang, masyarakat Arab asli ketika itu membutuhkan ke-Esa-an pimpinan sekurangnya sama dengan kebutuhan yang dirasa oleh Nabi Musa dan Nabi Daud. Pada masa Nabi Muhammad, bangsa Arab terdiri dari berbgai suku dan menyembah berbagai macam berhala. Muhammad bin Abdullah merenung dan memikirkan tentang keadaan masyarakat Arab serta mencari jalan keluar atas berbagai persoalan kehidupan pada saat itu. Ia mencari keberadaan Tuhan. Ia tertarik oleh Tuhan Esa-nya Nabi Ibrahim, Musa, dan Daud. Disini Tuhan lebih tentang ke-Esa-annya. Menurut Muhammad bin Abdullah Tuhan tidak bisa dibendakan. Ia semata-mata bersifat rohani. Tuhan yang semata-mata bersifat rohani yang tak dipatungkan lagi itu baru terdapat pada agama nasrani sesudah munculnya Martin Luther dan Calvin berarti setelah 1500 tahun Nabi Isa lahir atau setelah 900 tahun Nabi Muhammad wafat. Dalam gereja Protestan kita tidak melihat lagi patung Nabi Isa yang disalib. Dengan Yahudi, Muhammad bertentang pendapat tentang fungsi kekusaan para Rabbi yang sangat mutlak. Menurutnya seorang hamba dapat langsung meminta dan berhubungan dengan Tuhannya tanpa perantara siapapun. Dari semua hal tersebut, Muhammad bersikap kritis terhadap agama Yahudi dan Nasrani.
Masyarakat Arab yang percaya Allah sebagai Tuhannya dan Muhammad sebagai Rasulullah ternyata belum cukup kuat mempersatukan suku-suku Arab yang berseteru. Bahkan hal itu menimbulkan ejekan, kebencian, caci maki, dan segala bentuk gangguan kepada Muhammad. Kepada siapakah mereka manusia-manusia Arab yang galak dan ganas itu akan takut ? dan apakah gunanya berbuat baik di dunia ini kalau sesudah kematian semua perkara yang berhubungan dengan manusia berhenti sama sekali. Di dunia fana inilah harus dicari sesuatu yang bersifat kenikmatan atau kesengsaraan yang dapat mendorong manusia untuk takut berbuat jahat dan gemar berbuat baik. Itulah surga dan neraka. Lalu bagaimana konsep surga dalam Islam ? surganya Islam itu sangat kuat pengaruhnya seperti kutub utara menarik jarum kompas. Sebelum sampai ke surga jannatuna’im itu sesudah Muhammad S.A.W wafat, orang-orang Arab dan Badui yang sudah bersatu itu mendapatkan surga dunia di Syria, Mesir, Spanyol, Iran, India. Para calon syahud mengalir bagai banjir dari seluruh penjuru Arab di bawah semboyan “Tuhan itu ialah Allah dan Muhammad itu ialah rasul-Nya. Tiada satu negara dan bangsa pun yang beratus-ratus tahun dapat bertahan dibanding kekuasaan Arab. Begitu cocoknya surga Islam dan konsep mati syahid itu dengan watak dan sifat masyarakat Arab.
Allah itu menurut logika tentulah tidak disebut “Maha Kuasa” kalau tidak dapat menentukan nasib segenap umat manusia setiap waktu. Setiap saat ia dapat menghentikan jalannya matahari, peredaran bintang dan bumi. Setiap saat ia dapat mematikan tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia. Sebaliknya manusia juga tidak boleh takut menghadapi bahaya maut apapun kalau Tuhan Yang Maha Kuasa itu belum memnggilnya. Dalam Islam hal ini dinamakan Takdir Tuhan, di dunia Barat hal ini dikenal sebagai pro-destination. Calvin, bapaknya mazhab Protestan, pada abad ke-17 juga mengemukakan hal ini. Oliver Cromwell di Inggris dan tentaranya yang diakui paling nekat pun oleh ahli sejarah barat juga mengikuti kepercayaan ini. Dalam hal ini tidak dapat dibantah pengaruh Islam pada dunia Kristen. Oleh karena itulah Tan Malaka mengatakan bahwa monotheismenya Nabi Muhammad-lah yang paling konsisten dan konsekuen, terus dan lurus. Maka itulah sebabnya menurut logika, bahwa Muhammad-lah yang terbesar diantara nabi-nabi monotheisme. Begitu juga dengan konsistensi memegang dasar nilai itu Muhammad tidak ketinggalan. Ketika seluruh Mekah memusuhinya, mengancam jiwanya dan dalam keadaan seperti itu musuh-musuhnya menawarkan harta dan pangkat bila mau menghentikan propagandanya, Muhammad berkata: “Walaupun di sebelah kiriku ada bintang dan di sebelah kanan ada matahari yang melarang, saya harus meneruskan perintah Allah”. Tetapi sekali lagi dapat dikatakan bahwa pada Islam masalah ke-Esa-an Tuhan itu juga mengalami pertentangan banyak pendapat dan sifatnya sampai ke puncak.
Jadi, menurut Madilog, Yang Maha Kuasa itu bisa lebih berkuasa daripada hukum alam. Namun selama alam ada dan selama alamraya itu ada, selama itu pulalah hukumnya alam raya yang berlaku. Menurut hukum alam raya, materilah yang mengandung kekuatan dan menurut hukum, dengan itulah caranya materi itu bergerak, berpadu, berpisah, menolak, menarik, dan sebagainya. Kekuatan materi dan hukum alam jelas masuk dalam pembahasan ilmu bukti. Berhubung dengan hal tersebut, maka permasalahan tentang Yang Maha Kuasa, tentang jiwa yang terpisah dari jasmani, surga atau neraka yang berada di luar alam semesta, tidak dikenal dalam ilmu bukti. Semua ini adalah di luar daerah pembahasan Madilog. Semua itu jatuh ke daerah “kepercayaan” masing-masing. Ada atau tidaknya itu pada tingkat terakhir ditentukan oleh kecendrungan msing-masing orang. Tiap-tiap manusia bebas menentukannya dalam kalbu dan hati sanubarinya sendiri. Dalam hal ini Tan Malaka mengakui kebebasan berpikir orang lain sebagaimana ia menuntut pula orang lain menghargai kebebasannya untuk memilih paham yang diterapkan.

Penutup

Tulisan di atas adalah resensi saya tentang Islam dalam Tinjauan Madilog yang merupakan sebagian tulisan Malaka diantara banyak tulisan lain yang dihasilkannya. Sebenarnya dalam buku ini terdapat lagi bab lainnya. Tetapi bab yang lain adalah tulisan para tokoh tentang Tan Malaka mengenai pandangannya terhadap Islam, yang dilihat dari berbagai sudut pandang bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sejarah, dan poltik.

Catatan beku

Assalamualaikum Wr.Wb

Teriring salam dan do'a kami sampaikan semoga saudara yang membaca blog saya ini senantiasa dalam rahmat Alloh SWT.Amien

Saya ucapkan beribu terimakasih atas waktu saudara berkenan berkunjung ke blog ini, tentunya suatu komunikasi dibangun dan jika komunikasinya itu inten dan in line maka akan membuahkan hal positif antara yang satu dengan lainnya. manusia sebagai mahluk sosial tentu memerlukan entitas sosialnya dalam mengimplementasikan suatu hubungan interpersonalnya, mudah-mudahan kesempatan saudara berkenan membuka blog ini menjadi rahmat dan berkah yang tiada terhingga.

sebagai gambaran umum tentang saya, saya adalah mantan aktifis 1998 yang sampai detik ini menulis alhamdulillah masih aktif dalam pergerakan-pergerakan serta atau ikut memantau perkembangan pergerakan nasional, kebijakan pemerintah serta masalah-masalah sosial lainnya.

beberapa pengalaman dalam pergerakan sejak awal reformasi bergulir, turut membidani lahirnya beberapa wadah pergerakan, suksesi presiden, suksesi pilkada dan konsultan politik maupun konsultan Public relation di beberapa perusahaan. tentunya itu bukan suatu yang perlu dibanggakan, ini hanyalah pengalaman pribadi dalam upaya melatih diri pada proses pembelajaran menuju kedewasaan berfikir, bersikap dan bertindak sesuai apa yang dicita-citakan dari dalam nurani pribadi yang terdalam.

saya terjun ke dunia politik bukan berarti saya politisi yang memiliki target serta tujuan politik tertentu, insyaalloh saya terjun ke politik bukan untuk tujuan itu, hingga sampai detik ini belum pernah satu partai politikpun yang saya berada di dalamnya, walaupun tawaran menggiurkan berkali-kali datang dari rekan-rekan aktifis partai.

Andai saudara lebih memahami sesungguhnya perilaku politisi kita saat ini, soudara pasti akan mengepalkan tangan dan mungkin hasrat emosi besar untuk memukulkan kepalan tangan anda tepat di wajahnya...wajah politisi kita adalah wajah yang paling busuk diantara wajah yang terbusuk,seperti halnya topeng-topeng itu terbuka dibalik kemunafikan yang berhasrat ambisi dan seolah terpancar wajah yang penuh dedikasi

Munculnya partai jelas lebih mengarah pada suatu alat menuju cita-cita politik, kekuasaan, jabatan dan uang, begitu juga munculnya berbagai LSM lebih banyak termotivasi atas kepentingan mencari peluang bisnis dan atau kepentingan yang tidak jauh berbeda dengan para pelaku politisi tersebut.

oleh karena itu bukan saya ingin mengajak pada sikap apatisme terhadap situasi bangsa yang kian carut marut, saya ingin mengajak semua elemen bangsa untuk kita sama-sama membangun diri menjadi manusia-manusia terbaik bangsa ini, mari wujudkan kebersamaa, persaudaraan dengan kualitas terbaik kita menjadi manusia pilihan

salam sukses untuk anda semua

Aceng Ahmad Nasir

Orang-orang Pilihan

Ada yang menarik ketika majalah Swa dan MarkPlus Professional Service menobatkan empat pemimpin puncak terpuji: Teddy Rachmat dan Rini Suwandi serta Mochtar riady dan Rachman Halim – masing-masing dilangsungkan di Hotel Grand Hyatt, Jakarta dan di Hotel Hyatt Regency, Suarabaya. Orasi Teddy dan Mochtar sama-sama mencekam hadirin.
Teddy berbicara tentang kerja sama tim di kelompok perusahaan Astra. Ia menguraikan tentang visi Astra tahun 2000 dan strategi dasar untuk mencapainya. Teddy menganggap dirinya sebagai pilot, yang akan mengantar Astra ke tujuan tersebut. Lalu, Rini? Tiga tahun yang lalu, pada waktu Astra sedang oleng, peran Rini sebagai direktur keuangan, yang disebut Teddy sebagai co-pilot, sangat membantu.
Astra disebut Teddy sebagai suatu perusahaan yang punya tujuan jangka panjang. Ia menyebut pembinaan sumber daya manusia merupakan hal sangat penting, di samping penetapan strategi bisnis yang tepat.
Sedangkan Mochtar, yang sudah berusia 66 tahun tapi masih segar, banyak berbicara tentang pengalaman pribadinya. Definisinya tentang inovatif sederhana saja, yaitu bagaimana menjadi penjaja kelas satu (the first class salesman)-orang yang bisa menjual konsep dengan cara menyakinkan orang lain supaya mau mendukung idenya.
Sejak dulu, Mochtar memang selalu punya ide brilyan. Dulu orang berpikir, Mochtar cuma jago di bank. Belakangan orang merasa surprise ketika melihat bagaimana Lippo bisa begitu cepat melaju di bisnis properti. Mochtar memang selalu berusaha berpikir keluar dari paradigma tradisional. Produk-produk baru yang diluncurkannya selalu beda dengan yang lain mulai Tahapan, Lippo City, Lippo Village, Lippo Star Card sampai ke Warisan.
Dalam konsep kepemimpinan Kouzes dan Posner, yang ajdi lAndasan pemilihan pemimpin puncak kali ini, dijelaskan ada lima karakter dasar yang penting. Menghadapi tahun 2000, seorang pemimpin harus bisa melihat kesempatan, melakukan eksperimen, dan berani mengambil resiko karena dia diharapkan bisa melakukan perubahan. Kata perubahan (change) jadi kata kunci bagi seorang pemimpin masa depan. Selain itu, ia juga harus punya visi jauh kedepan. Dan bisa membuat orang lain dalam organisasinya mengerti dan percaya. Tanpa kemampuan seperti itu, sang pemimpin hanya bisa mengajak orang lain untuk “lari di tempat”.
Setelah itu, seorang pemimpin harus bisa memantapkan organisasinya, yang terdiri dari berbagai jenis manusia. Masa depan yang akan kita masuki memberi peluang besar pada terjadinya perbedaan. Seorang pemimpin harus mampu membangun di atas perbedaan tersebut. Suatu organisasi yang mantap bukan cuma solid orang-orangnya, melainkan juga punya kapasitas untuk bergerak. Kata kunci di sini empowerment.
Seorang pemimpin harus bisa merupakan model bagi orang lain dan bisa membuat prgram-program kecil supaya terkesan ada sasaran antara menuju ke suatu tujuan jangka panjang. Akhirnya, seorang pemimpin harus bisa bicara dengan hati kepada anggotanya. Bukan cuma bisa menghargai suatu pencapaian prestasi orang lain, melainkan juga merayakan suatu keberhasilan. Lima konsep dasar dari Kouzes dan Posner ini jadi relevan pada saat ini, karena situasi persaingan yang makin meningkat.
Pada saat suatu situasi industri masih bersifat monopoli, maka suatu organisasi cukup berorientasi pada produksi. Dalam situasi ini, pemimpin yang dibutuhkan adalah orangyang bisa memacu produktivitas. Ini yang disebut model task oriented leadership.
Kalau situasi sudah bergeser, pesaing sudah ada tapi masih lemah, maka organisasi biasanya berorientasi pada penjualan. Pada situasi seperti itu, seorang pemimpin harus menjual idenya kepada orang lain. Persaingan yang makin meningkat menyebabkan suatu perusahaan harus berorientasi pada pemasaran. Artinya, organisasi itu harus mengetahui need and want dari konsumen sebelum membuat dan menjual produk atau jasa. Analoginya, pemimpin juga harus melihat situasi anakbuahnya. Karena itu, konsep situational leadership gaya kepemimpinan harus disesuaikan dengan situasi kedewasaan bawahan dari Hersey dan Blanchard pernah jadi begitu terkenal.
Kalau situasi pesaing terus meningkat, gaya kepemimpinan seperti itu sudah tidak memadai lagi. Suatu organisasi market driven, yang harus melayani pasar yang makin terpecah, memerlukan gaya kepemimpinan lain lagi. Karena itu, Izac Adizes lantas bicara tentang perlunya seorang itergrator dalam perusahaan.
Akhirnya, ketika suatu organisasi sudah harus jadi customer driven company sering saya sebut sebagai organisasi 4C maka si pemimpin benar-benar harus bersifat service oriented. Setiap orang harus jadi service provider . Sebuah perusahan baru bisa memberi pelayanan kepada pelanggan kalau pemimpinnya sendiri merupakan model service provider bagi orang lain. Itulah konsep kepemimpinan Kouzes dan Posner yang terlihat dalam figur Teddy Rachmat dan Mochtar Riady pada waktu membawakan orasi

Pancasila, Quo vadis Pendidikan dan Pengangguran Terdidik

Pancasila, Quo vadis Pendidikan dan Pengangguran Terdidik
Hari lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945, perlu diperingati oleh bangsa Indonesia untuk menggugah kita: kembali menyadari pentingnya dasar negara Pancasila sebagai filosofi dan ideologi pemersatu bangsa dan negara.
Ini tidak terlepas dari kondisi bangsa yang sejak era reformasi semakin jarang membahas konsep Pancasila, baik dalam konteks ketatanegaraan, kebangsaan, kemasyarakatan, maupun akademik.
Meskipun pada pasca-Reformasi—dari pemerintahan BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan kini Susilo Bambang Yudhoyono—Pancasila tetap menjadi dasar dan ideologi negara, hal itu sebatas pernyataan konstitusi.
Karena Pancasila ada dalam konstitusi (UUD 1945), maka berdasarkan stufenbau der rechtstheorie (teori pertingkatan hukum) Hans Kelsen, Pancasila berkedudukan sebagai grundnorm (norma dasar). Grundnorm adalah kaidah tertinggi, fundamental, dan menjadi inti (kern) setiap tatanan hukum dan negara.
Grundnorm, disebut juga staas grundnorm, berada di atas Undang-Undang Dasar. Dalam ajaran mazhab sejarah hukum yang dipelopori Friedrich Carl von Savigny dan
bertitik tolak pada volksgeist (jiwa bangsa), Pancasila dapat digolongkan sebagai volksgeist bangsa Indonesia.
Meskipun demikian, muncul fenomena di berbagai lapisan masyarakat yang hampir tidak pernah lagi mengutip Pancasila dalam pandangannya. Pancasila seperti tenggelam, tidak perlu dimunculkan lagi di ruang publik.
Pancasila pun terpinggirkan dan terasing dari dinamika kehidupan bangsa. Dasar negara ini seperti tidak dibutuhkan, baik dalam kehidupan formal-kenegaraan maupun masyarakat sehari-hari.
Revitalisasi Pancasila
Ada keinginan sebagian masyarakat untuk merevitalisasi eksistensi Pancasila, tetapi belum mengerucut jadi gerakan. Dalam sejarah ketatanegaraan, revitalisasi Pancasila sebenarnya pernah berlangsung. Gelombang pertama ketika Pancasila lahir saat Soekarno berpidato di depan BPUPKI, 1 Juni 1945. Gelombang kedua, ketika Konstituante, pasca-Pemilu 1955, memperdebatkan apakah Pancasila dipertahankan sebagai dasar negara atau diganti ideologi lain. Gelombang ketiga saat Pancasila dimanipulasi rezim Soeharto.
Selama 32 tahun pemerintahan Soeharto, Pancasila amat sering dibahas, baik dalam kehidupan kenegaraan maupun kemasyarakatan. Hampir semua pidato Soeharto mengutip Pancasila. Sebagaimana dikatakan Cohen, juga Hallin dan Mancini, pidato Presiden memengaruhi masyarakat terkait realitas sosial politik yang ada.
Pancasila jadi kata kunci pidato Soeharto untuk menunjukkan Orde Lama sebagai masa yang penuh kekacauan karena tidak mengamalkan Pancasila. Dalam wacana khas Orde Baru, berbagai penyelewengan, disintegrasi, pemberontakan, dan komunisme adalah praktik penyimpangan terhadap Pancasila.
Lantas mengapa setelah lengsernya Soeharto Pancasila tak terdengar lagi, bahkan muncul keengganan berbagai kalangan mengakui eksistensi Pancasila? Ini akibat dari traumatisnya masyarakat terhadap penyelewengan penguasa Orde Baru yang mengatasnamakan Pancasila. Demi kekuasaan, para penguasa Orde Baru memonopoli penafsiran Pancasila sesuai kepentingannya. Semua yang dinilai tidak sesuai dicap ”anti-Pancasila”.
Pasca-Reformasi muncul kekhawatiran, jika Pancasila kembali berperan, berarti Indonesia kembali ke masa Orde Baru. Pancasila diidentikkan sebagai bagian dari rezim dan ideologi penguasa Orde Baru.
Belajar dari penyelewengan Pancasila oleh pemerintahan Orde Baru, kita hendaknya kembali menyadari pentingnya Pancasila sebagai konsep bernegara. Ini mengingat bangsa kita telah kehilangan arah akibat praktik korupsi, kolusi, nepotisme, dan menjadi collapsed state: negara tidak berperforma baik karena fungsi-fungsi negara tidak membawa negara keluar dari berbagai kebobrokan internal. Artinya, negara gagal menjalankan fungsi-fungsi dasarnya terutama saat masyarakat membutuhkan kehadiran negara.
Tanda negara kolaps
Menurut Gregorius Sahdan, collapsed state ditandai antara lain: kegagalan negara menyediakan public goods terutama di luar Jawa. Banyak sekolah seperti kandang sapi, tidak ada jalan raya—kalau ada berlubang-lubang, rumah sakit jauh dari masyarakat miskin pedesaan, air bersih sulit dipenuhi, minyak tanah susah dicari, dan sebagainya.
Collapsed state juga ditandai dengan gagalnya negara menegakkan supremasi hukum. Mafia hukum justru merajalela sehingga hukum hanya berlaku bagi koruptor pinggiran, bukan pada koruptor kelas kakap.
Semua itu memperlihatkan sikap bangsa yang tidak menghayati nilai-nilai Pancasila. Sikap ini juga tampak pada instrumen regulasi dan kebijakan politik yang bisa memicu disintegrasi bangsa.
Peringatan hari Pancasila kiranya melahirkan komitmen menjadikan Pancasila sebagai perekat yang mempersatukan bangsa dan negara. Seluruh komponen bangsa hendaknya berhak sama untuk memaknai Pancasila sehingga Pancasila tak lagi diposisikan sebagai milik satu kelompok saja. Apabila ada perbedaan pemaknaan dan penafsiran, itu konsekuensi demokrasi.
Keberhasilan menempatkan kembali Pancasila sangat tergantung pada keteladanan para elite politik dalam menegakkan nilai-nilai Pancasila. Ini berarti lahirnya jiwa negarawan yang memahami tanda-tanda zaman sehingga dapat membawa bangsa melewati masa-masa sulit. Apalagi dengan beratnya problem bangsa diantaranya masalah pengangguran dan pendidikan .(Kompas,1/6/2010)

Paradigma Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi
Perguruan Tinggi adalah suatu komunitas ilmiah. Suatu komunitas yang memiliki karakteristik akademik. Disinilah tempat dimana produk intelektual dilahirkan, dikembangkan dan diimplementasikan. Dengan kata lain perguruan tinggi merupakan laboratorium bagi masyarakat, yang memberikan kontribusi bagi terciptanya proses pemberdayaan berfikir sesuai dengan khasanah ilmu dan kapasitas yang dimiliki untuk dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Esensi peran dan fungsi perguruan tinggi tersebut tertuang kedalam pola orientasi yang menjadi bagian dari kegiatan akademik atau yang biasa dikenal dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian). Berbicara tentang pendidikan, maka perguruan tinggi bukan hanya menciptakan suatu mekanisme kegiatan belajar-mengajar secara formal saja. Tetapi ia juga harus mampu menumbuh-kembangkan nilai di dalam pendidikan. Nilai yang dimaksud itu adalah bahwa di dalam pendidikan – terdapat budaya dan etika yang harus dipegang. Karena pendidikan hanya diperuntukkan bagi kemaslahatan umat manusia. Dalam konteks itulah maka pendidikan (khususnya di perguruan tinggi) harus setidaknya mengambil ikhtiar dari hakekat ilmu, yaitu dikaji secara ilmiah dan dianalisa secara kontekstual agar bermanfaat bagi individu, masyarakat bangsa dan negara.
Sebagai komunitas ilmiah, Perguruan Tinggi harus mampu membangun responsibilitas yang bersifat konseptual dan solutif tentang berbagai hal yang berkaitan dengan situasi-kondisi yang berkembang ditengah masyarakat. Dengan demikian perguruan tinggi menjadi media/ sarana yang mampu mentransformasikan relevansitas perkembangan ilmu pengetahuan dalam berbagai kapasitasnya sesuai dengan dinamika dan perkembangan zaman. Termasuk bagaimana merespons perkembangan zaman yang saat ini sudah berdimensi global.
Berkaitan dengan itu maka sesuai dengan amanat UUD 1945, Tap MPR No. II/MPR/1993 dinyatakan bahwa : Pendidikan nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat dan martabat bangsa, mewujudkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas, mandiri sehingga mampu membangun dirinya dan masyarakat sekelilingnya serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
Penyelenggaraan Pendidikan nasional harus mampu meningkatkan, memperluas dan memantapkan usaha penghayatan dan pengamalan Pancasila serta membudayakan nilai-nilai Pancasila agar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari di segenap masyarakat. Lebih jauh ketetapan MPR No. XVIII/ MPR/ 1998 hasil Sidang Istimewa MPR 1998 menegaskan bahwa Pancasila sudah tidak menjadi satu-satunya azas, Pancasila telah menjadi sebuah ideologi terbuka yang dikaji dan dikembangkan berdasarkan kultur dan kepribadian bangsa. Ketetapan MPR menyebutkan bahwa kurikulum dan isi pendidikan yang memuat Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan terus ditingkatkan dan dikembangkan disemua jalur, jenis dan jenjang pendidikan nasional. Itu berarti Pendidikan pancasila di Perguruan Tinggi harus terus menerus ditingkatkan ketepatan materi instruksionalnya, dikembangkan kecocokan metodologi pengajarannya, di-efisien dan di-efektifkan manajemen lingkungan belajarnya. Dengan kata lain perguruan tinggi memiliki peran dan tugas untuk mengkaji dan memberikan pengetahuan kepada semua mahasiswa untuk benar-benar mampu memahami Pancasila secara ilmiah dan obyektif.
Disamping itu, kalau ditilik kembali secara yuridis formal, perkuliahan Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi, juga tertuang dalam Undang-Undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan nasional. Pasal 39 dalam undang-undang tersebut menegaskan bahwa isi kurikulum setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan, wajib memuat pendidikan Pancasila, pendidikan Kewarganegaraan dan pendidikan Agama. Demikian juga di dalam Peraturan Pemerintah Nomor. 60 tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi, pasal 13 (ayat 2) ditetapkan bahwa kurikulum yang berlaku secara nasional diatur oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Secara lebih rinci perkuliahan Pancasila diatur dalam surat keputusan Dirjen Dikti RI No. 467/DIKTI/KEP/1999 yang merupakan penyempurnaan dari keputusan Dirjen DIKTI No. 356/DIKTI/KEP/1995. Dalam Surat Keputusan Dirjen DIKTI No. 467/DIKTI/KEP/ 1999 tersebut dijelaskan pada pasal 1 bahwa mata kuliah pendidikan Pancasila yang mencakup filsafat Pancasila merupakan salah satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dari kelompok mata kuliah umum dalam suatu susunan kurikulum inti perguruan tinggi. Pasal 2 menjelaskan bahwa mata kuliah pendidikan Pancasila adalah mata kuliah wajib untuk diambil oleh setiap mahasiswa pada perguruan tinggi untuk program Diploma dan program Sarjana. Sementara pasal 3 menjelaskan bahwa pendidikan Pancasila dirancang untuk memberikan pengertian kepada mahasiswa tentang Pancasila sebagai filsafat/ tata nilai bangsa, sebagai dasar negara dan ideologi nasional dengan segala implikasinya.
Hal tersebut juga berlaku pada mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan, sebagai satu kesatuan dari mata kuliah pendidikan Pancasila dan pendidikan Agama, yang mengandung visi keilmuan dan hakekat yang sama secara substansial dengan mata kuliah Pancasila. Karena sasaran yang hendak dicapai dalam mata kuliah ini adalah memberikan pengetahuan dan pengertian yang mendalam kepada mahasiswa sebagai tulang punggung negara, sebagai tonggak/ agen pembaharu di dalam msyarakat, tentang hubungan antara warga negara dengan negara, yang di dalamnya memuat unsur pendidikan politik, strategi politik nasional, pendidikan bela negara (baca : Nasionalisme) dan aspek-aspek yang dijadikan pedoman bagi mahasiswa dalam melihat perspektif ketatanegaraan bangsa Indonesia (baik supra struktur maupun infra strukturnya), sehingga mahasiswa diharapkan mampu menganalisa dan menjawab masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat, bangsa dan negaranya secara berkesinambungan dan konsisten dengan cita-cita dan tujuan nasional seperti yang digariskan dalam pembukaan UUD 1945.
Dari paradigma pendidikan Pancasila dan pendidikan Kewarganegaraan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kedua mata kuliah itu memiliki nilai fundamental bagi sistem pendidikan nasional secara komprehensif. Namun demikian apapun dan dalam bentuk apapun sebuah konsep ideal, ia harus berevolusi dan berkorelasi dengan iklim dan situasi yang berkembang – termasuk di dalamnya adalah mengenai intepretasi, sehingga terlihat adanya kausalitas antara idealitas dengan realitas. Dalam konteks yang demikian itu, seperti yang sudah dijelaskan di awal tulisan ini, pendidikan Pancasila dan pendidikan Kewarganegaraan dalam pelaksanaannya memang pernah mengalami homogenitas intepretasi dan manipulasi politik sesuai dengan selera dan kepentingan penguasa demi kokoh dan tegaknya kekuasaan yang berlindung dibalik legitimasi ideologi negara Pancasila. Dengan kata lain dalam kedudukan seperti itu, Pancasila tidak lagi dikatakan sebagai dasar filsafat serta pandangan hidup bangsa dan negara Indonesia, melainkan direduksi, dibatasi dan dimanipulasi demi kepentingan penguasa pada saat itu. Sekarang-pun ketika iklim demokratisasi dan demokrasi telah terbuka – yang ditandai dengan jatuhnya rezim Soeharto, sebagian masyarakat mengulangi sejarah yang sama dengan mengintepretasikan Pancasila secara subyektif. Berbicara tentang Pancasila, maka identik dengan Orde Baru – Golkar dan Soeharto. Begitu halnya dengan ketika kita membicarakan mata kuliah Kewiraan (baca : Kewarganegaraan), dibenak sebagian masyarakat yang melekat adalah gambaran rezim militer dengan segala konsekwensi perilaku di masa lalunya yang menakutkan dan membuat trauma masyarakat.
Melihat stigma berfikir masyarakat yang seperti itu seharusnya Perguruan Tinggi bertanggung jawab untuk mencoba meluruskan sekaligus mendudukkan Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan dalam level yang lebih ilmiah dan obyektif. Bukan malah mengikuti arus persepsi salah sebagian masyarakat dengan meredusir atau bahkan menegasikan nilai substansial Pancasila dan Kewarganegaraan di mata publik, khususnya civitas akademika.(Andi Trinanda-Quovadis Pancasila dan Pendidikan)
Pengangguran Terdidik
Angka pengangguran di Indonesia pada 2010 diperkirakan masih akan berada di kisaran 10 persen. Target pertumbuhan ekonomi yang hanya sebesar 5,5 persen dinilai tidak cukup untuk menyerap tenaga kerja di usia produktif.
"Anggaran belanja negara yang kurang dalam peningkatan infrastruktur jelas tidak bisa menekan angka pengangguran. Apalagi, dengan pertumbuhan ekonomi yang hanya sebesar 5 persen," kata Direktur Keuangan dan PSDM PPM Manajemen Bramantyo Djohan Putro di Jakarta, Indonesia membutuhkan petumbuhan setidaknya 7,3 persen per tahun untuk mengurangi angka pengangguran. Pertumbuhan itu bisa dicapai kalau laju inflasi berkisar 4 hingga 6 persen. Suku bunga Indonesia pun setidaknya berada di angka 5-7 persen dan nilai tukar rupiah Rp 9.500-Rp 10.500 per US. (Red Waspadaonline).
Jumlah penganggur terdidik terus meningkat seiring pertambahan lulusan perguruan tinggi setiap tahun.

“Menurut data Biro Pusat Statistik, jumlah penganggur terdidik lulusan universitas di Indonesia meningkat tajam dari 409.900 pada Februari 2007 menjadi 626.200 orang pada Februari 2008. Sementara untuk lulusan diploma yang menganggu di rentang waktu tersebut meningkat dari 330.300 orang menjadi 519.900 orang atau naik 57%,” kata Koordinator Recognition and Mentoring Program (RAMP) Institut Pertanian Bogor, Ono Suparno dalam Seminar Technopreneurship di Kampus Institut Teknologi Telkom, PR Kamis (4/3/2010).

Dengan kekayaan intelektual yang dimilikinya, kata Ono, mahasiswa seharusnya bisa menjadi pendorong pertumbuhan wirausaha berbasis teknologi (technopreneurship) yang mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah. Technopreneurship akan menjadi salah satu kunci penciptaan knowledge-based economy untuk meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi pengangguran.
Catatan Penutup
Perguruan Tinggi memiliki orientasi ideal yang harus terus di pupuk dan dikembangkan yaitu membentuk kader yang dibutuhkan oleh negara dan masyarakat bagi tercapainya tujuan umum bangsa Indonesia yang hendak mencapai terciptanya suatu masyarakat yang berdiri atas satu corak kepribadian, yaitu kepribadian Indonesia, sebagai jaminan untuk membangun kultur dan penjaga nilai ideologi bangsa. Tujuan tersebut berarti mendidik masyarakat (civitas akademika) yang memiliki keseimbangan intelektual yang nasionalis (rasa memiliki terhadap tanah air), moralis dan spiritual. Oleh karenanya momentum Hari Pendidikan Nasional, 102 tahun kebangkitan nasional saat ini serta hari kesaktian pancasila adalah sangat relevan bagi kaum akademisi dan masyarakat yang concern terhadap nilai sejarah dan edukasi ideologis bangsa untuk menakar, menganalisis, membedah sekaligus melakukan petualangan ilmiah melalui pengembaraan intelektualisasi dalam rangka menemukan kembali arah yang tepat bagi upaya melestarikan pancasila sebagai ideologi sekaligus kultur bangsa kita. Sebuah pedadogi ideology akan seirama apabila terimplementasi dari makna yang tersirat dari tujuan mulia yang ada di dalamnya, persoalan pendidikan menjadi hal pokok yang dapat menjadi kendala besar jika tidak dilakukan reorientasi yang diseuaikan dengan perkembangan bansa dan dunia, disi lain problem yang dihadapi bangsa ini adalah tingginya angka pengangguran, khususnya pengangguran terdidik, sudah 21 tahun LP3I turut mengupayakan dan membantu pemerintah dalam mengatasi pengangguran yang hususnya pengangguran terdidik. Hal ini tentu perludorongan dari semua stake holders agar cita-cita mulia ini dapat menjadi virus perubahan menuju bangsa yang pancasilais, makmur, adil dan sejahtera.(Ac)
Referensi:
Andi Trinanda, Mendefinisikan Kembali Paradigma Demokrasi Masa Transisi di Indonesia : Memaknai Nilai Reformasi Secara Obyektif, Majalah Cakrawala BSI, Vol 2 No. 1 September 2002.
C.S.T. Kancil, Pancasila dan UUD 1945 (Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi, PT. Pradnya Paramitha, Jakarta, 1998
Eka Danaputera, Pancasila (Identitas dan Modernitas) – Tinjauan Etis dan Budaya, PT. BPK Gunung Agung Mulia, Jakarta 1997
Kaelan, MS, Pendidikan Pancasila, Paradigma, Yogyakarta, 1999
Letjen TNI Jhony Lumintang DKK, Pendidikan Kewarganegaraan, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001
Naba Aji Notoseputro, Paradigma Sistem Perguruan Tinggi di Indonesia, Bina Prestasi, Edisi 15, Bina Sarana Informatika, 2002

Professional Presence

Para anggota organisasi yang berperan sebagai observed people, merupakan salah satu pembentuk citra perusahaan. Anggota-anggota organisasi yang secara sengaja maupun tidak sengaja membentuk kontak langsung dengan pihak luar perusahaan atau "teramati" oleh pihak luar inilah yang akan mempunyai kontribusi besar dalam mbentuk citra organisasi.

Jadi salah satu kunci sukses dalam menciptakan citra positif perusahaan adalah dengan membentuk professional presence para anggota organisasi yang tidak hanya mencakup profesionalisme kerja dari sisi kompetensi dan keterampilan prima saja tetapi juga dilengkapi dengan kemampuan interpersonal yang tinggi, kemampuan adaptasi. Selain itu citra positif perusahaan juga dipengaruhi oleh ketepatan anggota organisasi dalam menempatkan diri yang didukung oleh tingkat kepercayaan diri yang cukup dan penampilan profesional yang disesuaikan dengan tipe perusahaan, visi dan posisi dalam perusahaan.

Masalah ini perlu dicermati dalam kerangka pengembangan karir. Jika pilihan karir Anda tergolong dalam kelompok observed people, professional pressence menjadi sangat penting bagi kemajuan karir Anda. Karena perusahaan akan menempatkan orang-orang yang berperan sebagai observed people ini bukan saja memiliki kompetensi tinggi dalam bidangnya, tetapi juga dapat menopang citra perusahaan.

Citra Profesional
Pada dasarnya citra dan potensi diri dapat ditingkatkan dengan terlebih dahulu memperbaiki personality kita. Untuk itu diperlukan kemauan untuk mengevaluasi diri secara jujur dan kemauan untuk terus-menerus belajar.

Pengenalan terhadap rahasia kekuatan personal dan bagaimana memanfaatkannya merupakan elemen dasar peningkatan personality. Adapun langkah selanjutnya adalah usaha untuk mengidentifikasi kekuatan personal kita dan kemungkinan pengembangannya.

Keseluruhan citra diri tidak hanya dicerminkan oleh personality saja, tetapi juga harus dilengkapi dengan sikap profesional yang dihadirkan dalam situasi apapun juga. Agar dapat bersikap sebagai seorang profesional, perlu kiranya memahami dan mengimplementasikan etiket yang diterima dalam masyarakat masa sekarang dan akan datang, baik etiket umum maupun etiket dalam situasi khusus. Selain itu, memahami bagaimana memanfaatkan visual poise dan bahasa tubuh kita akan sangat membantu dalam membangun citra profesional.

Tentunya sikap profesional harus pula didukung oleh penampilan keseluruhan yang profesional pula. Akan tetapi, tampil profesional tidak akan banyak berarti apabila tidak disertai oleh kemampuan untuk dapat benar-benar mewujudkan profesionalisme dalam tindakan nyata.

Kompetensi seorang profesional kiranya hanya dapat diwujudkan secara nyata apabila dimiliki kemampuan untuk menyatakan atau mempresentasikan kompetensinya secara jelas, yaitu dengan didukung oleh kemampuan berkomunikasi yang jitu.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membina komunikasi efektif dan efisien adalah pengaturan ekspresi dan nada suara, cara atau sikap pada saat berkomunikasi dan variasi cara berkomunikasi yang diperlukan. Selain itu, sebagai seorang komunikator yang baik, para eksekutif dituntut pula menjadi seorang pendengar yang aktif dan menguasai cara-cara berkomunikasi non verbal secara benar.

Profesionalisme juga dipengaruhi oleh kemampuan untuk mengimplementasikan business entertaining secara tepat, baik persiapan, perencanaan, maupun pelaksanaannya. Sebaliknya, para eksekutif juga dituntut untuk secara efektif dapat menjalankan fungsi sebagai seorang yang be entertained.

Salah seorang klien saya, seorang yang saya anggap profesional dalam penampilan dan kemampuannya, menceritakan suatu kejadian yang tidak menyenangkan yang dialaminya tahun lalu ketika ditugaskan untuk menyambut tenaga spesialis wanita dari perusahaan mitra bisnis di Mexico. Merasa perlu memberikan pelayanan baik sejak awal, pada saat menyambut tamu tersebut di bandar udara, diberikan untaian bunga yang kebetulan mayoritas berwarna kuning. Sang tamu terlihat kebingungan dan sepertinya ingin menolak menerimanya. Acara selanjutnya pada hari pertama tersebut menjadi kaku. Beberapa lama setelah peristiwa tersebut, barulah klien saya menyadari kesalahan yang terjadi. Ternyata warna kuning melambangkan kematian di negara Mexico.

Contoh kecil tersebut mencerminkan bahwa sesungguhnya, peningkatan potensi dan citra diri tersebut belum cukup kuat untuk dapat memenangkan situasi masa depan, di mana globalisasi membawa kemajemukan yang semakin kompleks. Meningkatkan wawasan secara mendalam sehubungan dengan cross-culture merupakan suatu keharusan untuk dapat menempatkan diri secara tepat dalam situasi apapun dan di lokasi manapun.

Sebagai penutup, perlu kiranya disadari bahwa tidak semua orang menyadari potensi diri yang sebenarnya dimiliki. Oleh karena itu, diperlukan keuletan untuk mengidentifikasi potensi diri secara intensif, sebelum memulai proses pengembangan diri. Karena, tanpa evaluasi diri yang benar, mungkin saja usaha pengembangan yang dilaksanakan tidak dapat mencapai kondisi optimal yang diinginkan. Pengembangan citra diri dan potensi diri merupakan bagian penting dalam pengembangan karir

Mau kuliah?

UJIAN Nasional atau UN pada SMU telah dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia. Standar kelulusan pun telah dinaikkan oleh Departemen Pendidikan Nasional dari nilai 5.25 pada setiap pelajaran di tahun kemarin menjadi nilai 5.5 pada setiap mata pelajaran untuk tahun ini. Pengumumamn kelulusan pun sudah dilakukan.
Dalam menghadapai UN tempo hari, tantangan yang cukup berat bagi guru dan sekolah terkait untuk membimbing dan mengarahkan muridnya agar memenuhi standar kelulusan SMU. Hampir di setiap sekolah telah mengadakan bimbingan belajar tambahan bagi murid kelas XII pada jam pelajaran nol ataupun setelah jam pelajaran usai. Lembaga-lembaga bimbingan belajar pun berlomba-lomba memberikan metode yang jitu untuk menyelesaikan soal-soal yang akan diujikan pada UAN, ada metode penalaran, smart solution dan lain sebagainya dengan harapan akan memberikan kemudahan dalam mengerjakan soal-soal UAN.
Demikian pula dengan penyelenggaraan try-out ujian UN yang diselenggarakan oleh elemen masyarakat lain mulai bermunculan menjelang pelaksanaan UAN. Bimbingan-bimbingan tersebut akan tidak efektif bila kemudian para pelaksana UAN (murid yang bersangkutan) kurang merespon baik atau apatis terhadap pelaksanaan UAN, karena pada hakikatnya kelulusan UN tergantung pada kemauan dan kemampuan dari murid yang telah terdaftar sebagai peserta UN.
Salah satu kota impian para lulusan SMU di seluruh penjuru Indonesia adalah dapat menempuh kuliah di kota pelajar Yogyakarta dan Bandung. Tidak terkecuali dengan para lulusan di luar pulau Jawa. Tetapi sayang, hampir dipastikan bahwa calon mahasiswa yang akan menempati bangku perkuliahan di universitas negeri ataupun swasta terkenal di Yogyakarta maupun Bandung adalah pelajar-pelajar SMU dari kota Yogyakarta sendiri dan kota sekitarnya, hanya sekitar 20 hingga 30 persen berasal dari luar pulau jawa. Lalu akan kemanakah mereka yang telah berniat untuk menuntut ilmu didaerah tersebut tetapi terhalang dengan batas kuota masuk calon mahasiswa?
Tidak sedikit para calon mahasiswa tersebut akan menerima nasib menjadi mahasiswa percobaan di universitas yang tidak bertanggung jawab terhadap kelulusannya kelak. Ini adalah salah satu contoh bagaimana nasib lulusan SMU luar Jawa yang mencoba untuk kuliah di Yogyakarta, Bandung atau jakarta. Kenyataan inilah yang harus mulai diperhatikan oleh orangtua atau pihak sekolah agar para lulusan SMU dapat diterima sebagai mahasiswa di universitas impiannya. Namun lain hal adengan apa yang di sampaikan oleh pendiri MURI yaitu Jaya Suprana saat pemberian anugrah MURI untuk LP3I di sela rakernas LP3I baru-baru ini, ia megatakan “ Banyak universitas maupun lembaga pendidikan yang tidak bertanggung jawab terhadap lulusannya, mereka hanya menjadikan ajang bisnis yang jauh daripada pembinaan lanjutan sehingga banyak lulusan di Universitas ternama baik pemerintah maupun swasta yang ujung-ujungnya hanya pengangguran” Jaya melanjutkan, “Justru pendidikan yang bertanggung jawab itu adalah yang mengarahkan lulusannya ke dunia kerja maupun dunia usaha, bukan melepas begitu saja” tuturnya dengan semangat menggelora, dari pernyataan Jaya Suprana tersebut tentu membuka mata kita betapa banyaknya pengangguran terdidik di negeri ini, tentu agar tidak terjebak polarisasi bisnis pendidikan yang tidak bertanggung jawab tersebut perlu kiranya sebelum menentukan pilihan dimana anda kuliah harus menyusun strategi terlebih dahulu.
Menyusun Strategi
Ada berbagai cara yang dapat digunakan bagi murid, orangtua dan sekolah untuk mulai menyusun srategi agar dapat kuliah di kampus yang diharapkan. Pertama, mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang lembaga pendidikan yang diinginkan. Mulai dari statusnya (terakreditasi atau belum), Jurusan apa saja yang terdapat di dalamnya, siapa saja dosen-dosen atau rector yang terlibat dalam proses pembelajaran, bagaimana system pembelajarannya (system paket atau SKS) hingga bagaimana nasib para lulusanya. Pencarian ini dapat dilakukan melalui website, brosur-brosur yang disebar di sekolahan atau iklan-iklan yang ada di koran lokal maupun nasional.
Kedua, datang langsung meninjau lokasi yang akan dituju, karena dengan datang langsung ke lokasi maka akan didapatlah penilaian bagaimana kondisinya, fiktif atau tidak. Cara kedua ini tidak harus dilakukan sendiri apabila terkendala dengan jarak tempuh yang jauh, tetapi dapat pula dilakukan dengan meminta bantuan orang lain atau saudara yang tinggal di tempat perkuliahan tersebut berada.
Ketiga, sering meng-update informasi pendaftaran calon mahasiswa di tahun yang sama dengan tahun kelulusannya jauh-jauh hari sebelum hasil ujian UN diumumkan serta lihat alumninya. Pada dasarnya, setiap kampus akan mencari dan menyeleksi calon mahasiswa yang mampu melalui ujian seleksi masuk yang diadakan oleh di kampus tersebut. Inilah yang membuat sebuah lembaga pendidikan mengadakan pendaftaran calon mahasiswa baru dari periode pendaftaran gelombang pertama hingga gelombang ketiga dengan rentang waktu yang jauh. Tetapi, pada setiap periode pendaftaran antara gelombang satu, dua dan tiga, akan terjadi perbedaan yang sebaiknya menjadi pertimbangan.
Pendaftaran gelombang pertama akan menyediakan bangku kuliah yang lebih banyak daripada bangku kuliah pada gelombang kedua dan ketiga tetapi sayang hal ini berbanding terbalik dengan jumlah pendaftarnya (biasanya gelombang pertama akan sepi dari pendaftar dan pada gelombang ketiga akan terjadi pembengkakan pendaftar), disamping itu yang tidak kalah penting adalah pada gelombang pertama akan dikenakan biaya perkuliahan yang lebih murah dibandingkan dengan gelombang kedua dan ketiga.
Keempat, bila nilai-nilai pada raport mendapatkan rata-rata di atas angka 7 maka sebaiknya sesegera mungkin untuk mencoba mendaftar melalui jalur prestasi yang biasanya dapat diikuti beberapa bulan sebelum Ujian Nasional dilakukan. Kelebihan dari jalur prestasi adalah bebas dari biaya pendaftaran, tes tertulis dan mendapatkan potongan dari biaya administrasi lainnya (seperti uang gedung dan lain sebagainya) tergantung dari kebijaksanaan lembaga tersebut.
Kelima, Pilih lembaga pendidikan yang bertanggung jawab terhadap lulusannya dengan memberikan jaminan kualitatif maupun kuantitatif baik pada program perkuliahan maupun setelah lulus, sebagai contoh di LP3I setiap siswa yang ingin kuliah di LP3I, Manajemen LP3I memberikan jaminan penenempatan kerja dan tertulis di atas materai, sehingga sesuai apa yang di sampaikan Jaya Suprana yaitu “Lembaga pendidikan yang bertanggung jawab”. Semoga tidak bingung lagi.(Ac