Halaman

Kamis, 02 Februari 2012

AKTIFIS 98 BERGABUNG KE HANURA



Sebuah Catatan....


HANURA (Hati Nurani Rakyat) sebuah kata yang sangat sederhana, namun memiliki makna yang dalam dengan diiringi filosofi yang mendasar dan substansial langsung ke sasaran .kataNurani memiliki kekuatan karena Nurani ada dan tertancap di setiap makhluk yang bernama manusia. Sedikit saya ingin gambarkan sepenggel kisah mengapa saya bergabung ke Partai Hanura dann bagaimana kronologis perjalanan politik saya. Saya ingin menceritakan apa adanya baik yang keluar dari hati, baik apa yang saya alami selama ini sebagai pelaku politik maupun sebagai konsultan politik praktis maupun saya sebagai aktifis pergerakan.

a.      Aktifis Pergerakan 98
Sewaktu saya duduk di bangku perkuliahan yang menginjak semester awal sekitar tahun 1997. Di kalangan kampus sudah mulai tersebar virus anti Soeharto, wacana penggulingan rezim itusudah begitu mencuat dan tersebar luas tidak hanya di kalangan aktifis kampus namun juga hingga hampir di seluruh elemen lapisan masyarakat. Tentu dengan berbagai analogi mungkin karena factor penguasaan rezim ORBA yang sudah lebih dari 30 tahun berkuasa terkait kebijakan politiknya yang meninggalkan bekas luka di kalangan yang tidak merasa di untungkan, juga timbulnya monopoli di berbagai aspek serta terjadinya oligarki kekuasaan dan diktatorisme kepemimpinan Soeharto. Singkatnya sejak 1997 saya mulai mengikuti dan bergabung dengan para aktifis baik di kalangan internal kampus maupun dengan lintas sektoral kampus. Gerakan kampus pada waktu itu muncul beberapa kelompok yang mengatasnamakan jaringan dengan nama kelompok yang berbeda serta latar belakang organisasi internal maupun eksternal yang berbeda baik itu yang dikatakan kelompok keras, semi keras maupun kelompok soft forces. Awal pergerakan di lingkungan eksternal kampus saya bergabung dengan kawan-kawan Forkot (forum kota) yang di motori oleh beberapa aktifis yang selanjutnya banyak yang menjadi tokoh kampus pada waktu itu dan ada yang masih eksis hingga saat ini. Saya melihat keperbedaan Visi ketika membaur dengan kawan-kawan forkot, akhirnya saya menginisiatifkan untuk merangkul beberapa kawan dari berbagai kampus untuk membuat wadah baru yang lebih independen dan memiliki netralitas perjuangan tanpa campur tangan elit politiksaya mendirikan FJK (Forum Jatiwaringin Kalimalang) yang memiliki anggota di 13 kampus yaitu kampus-kampus yang menyebar di jalur kalimalang, dan selanjutnya menjadi Forum Jakarta. Saat itu saya di tunjuk sebagai Ketua Presidium.
Hampir setiap hari kami aksi, hingga jatuhnya rezim orba pada  20 Mei 1998. Sungguh eforia politik pada waktu itu sangatlah memuncak dan hampir semua aktifis pergerakan merasa bangga karena telah melakukan andil besar terhadap kejatuhan soeharto, mereka sesungguhnya dan kami semua tidak segera menyadari bahwa pada momentum itu, peran-peran strategis sedang di curi oleh para pelaku politik generasi Tua yang pada era Soeharto tidak kebagian tempat atau bahkan tidak sedikit para pembelot Soeharto menjadi seolah pahlawan bertopeng. Wiranto yang pada kala itu sebagai MENHANKAM/PANGAB tentu dalam pandangan kami tiada lain adalah musuh bersama selain dia bagian dari rezim dia juga bertanggung jawab terhadap dampak kekerasan militer maupun korban yang telah menjadi pahlawan reformasi saat itu.pergerakan kami terus berjalan hingga apapun kebijakan rezim baru yang menggan tikan Soeharto itu adalah Habibie adalah merupakan kepanjang tanganan dari soeharto maka habibie pun harus di lengserkan dengan format SI(siding Istimewa). Singkatnya jatuhlah habibie walaupun kami juga masih berdarah-darah dilapangan dengan menghadapi berbagai kasus khususnya semanggi I dan Semanggi II.kejadian itu sungguh sangat mencekam dan malam-malam yang kami lewati adalah kengerian ada ketidak jelasan nasib bangsa kita kedepan, kami tidak bangga, sungguh kami sangat frustasi melihat kondisi bangsa yang sangat terpuruk. Keamanan yang  tidak ada, harga barang-barang naik,serta perubahan social masyarakat yang sangat berubah dari kondisi yang serba tertutup memasuki era yang serba terbuka, pers terbuka,segalanyapun serba terbuka. Semenjak kejatuha Habibie kami memberhintikan pergerakan  hingga Gus Dur berkuasa dan kekuasaaany tidak berjalan lama karena juga anyak kelompok yang merasa tidak terpuaskan.

b.      Memasuki Politik Praktis
Boleh siapapun mengatakan bahwa saya itu opportunis, namun sesungguhnya para mahasiswa atau aktifis Mahasiswa rata-rata mereka allergy terhadap partai politik, ya termasuk saya. Namun dalam buku DBS karya besar Bung Karno, “Partai adalah Alat kalau ingin masuk dalam lingkaran kekuasaan atau berkuasa ya berpartailah” maka statemen itu yang terus terngiang di telinga saya dan sehingga saya memutuskan untuk bergabung pada salah satu partai Politik. Tahun 1999 saya adalah jurkamnas PDIP dan menjadi caleg di Propinsi DKI dengan no urut jadi, namun dengan berbagai pertimbangan terkait usia saya yang pada waktu itu relative masih muda sekitar 25 Tahun maka saya hawatir saya lupa diri dan tidak konsisten lagi dalam perjuangan, maka saya mengundurkan diri dan tidak lagi menjadi pengurus Partai. Di tengah perjalanan  sekitar tahun 2001 saya bertemu dengan Prof Dimyati Hartono  mantan pendiri PDIP yang pada waktu 1999 kami sering berkampanye bersama. Pak Dim.yang mendirikan partai PITA dan saya bergabung di dalamnya. Saya di posisikan sebagai Ketua Bidang Agama dan Politik di DPP Partai PITA, kami berjuang ke daerah-daerah untuk bersosialisasi namun partai PITA tidak lolos Verifikasi karena diganjal oleh Megawati/PDIP yang sedang berkuasa pada waktu itu. Selepas kiegagalan di Partai Pita saya bertemu dengan Prof Ahmad Mubarok yang merupakan salah satu pendir partai Demokrat, saya dengan Pak Mubarok itu seperti Ayah dan anak karena selain dosen dulu saat saya menjadi mahasiswanya saya sering berkumpul di musolanya di sekitar jati waringan , berdiskusi dan sangat dekat sekali. Pak Mubarok mengajak saya bergabung ke Demokrat, dia begitu antusias memarketingkan Demokrat namun lagi-lagi saya tidak memiliki minta berpartai karena saya cukup trauma dengan apa yang saya alami di Partai PITA sebelumnya.
c.       Aktif di LSM
Karena saya merasa partai bukan wadah saya lag sebab begitu kentalnya pertarungan di dalamnya saya banyak aktif di LSM salahsatunya saya mendirikan LIRA(lumbung informasi Rakyat) bersama Yusuf rizal yang selanjutnya membentuk Presiden Senter sebagai tim bayangan SBY lagi-lagi saya merasakan ketidak nyamanan berorganisasi saat melihat para pelaku elit di dalam lingkaran istana dibawah kepemimpinan SBY yang sangat maruk dengan kekuasaan dan terlalu tidak bernurani dalam melakukan kebijakan, moral mereka kebanyakan bejat karena banyak kader di lingkungan istana itu orang lama ORBA yang menyebarkan virus kerusakan moral. Saya lebih menggarap sebagai konsultan maupun tim sukses Bupati maupun Gubernur. Ada banyak bupati yant telah menduduki pos serta beberapa Gubernur yang Alhamdulillah jadi manakala saya sebagai konsultan politiknya. Saya mendirikan Infocus(Indonesia Political Consultant).
d.      Masuk Hanura
Pertemuan saya dengan Hanura dialami secara tidak sengaja, memang sebelumnya saya telah menganalisi parpol mana yang kira-kira cocok dan benar-benar pas dengan hati saya. Suatu ketika saya di undang nonton bersama oleh seorang pengusaha Nasional yaitu Sandiaga s Uno, saat saya menghadiri acara tersebut tidak menyangka banyak sekali tokoh-tokoh sekaliber nasional hadir ada Abdul Latif, Fahmi Idris, Para Artis dan lain-lain. Salah satu diantara mereka yang saya kenal cukup baik yaitu Yuddy Chrisnandi, sewaktu dia menjadi anggota DPR dari Golkar sering menghadiri acara saya dengan LIRA. Singkatnya  Kang Yuddy mengajak saya bergabung ke HANURA dan akan mempertemukan saya dengan pak Wiranto, saya minta waktu sekitar 2 minggu untuk memikirkannya. Setelah melalui proses istikhoroh politik akhirnya saya menyepakati dan bergabung di HANURA dan bersama Yuddy di Bappilu DPP  HANURA.
e.      Wiranto
Saat pertama kali saya ketemu Pak Wiranto sekitar awal tahun 2011, dia menjelaskan  visi dan Misinya dan menceritakan kronologis kejatuhan Pak Harto, dan menceritakan penolakannya terhadap pak Harto yang telah memberikan semacam SUPERSEMAR. “Mas Aceng Kalo saya mau berkuasa saat itu ya sangat bisa ga usah harus repot-repot mendirikan partai dan berkompetisi segala, karena saya tidak ingin korban lebih banyak karena saya tahu saat itu sedang membenci saya karena ada didalamnya” kata pak Wiranto., egitu panjangnya beliau menceritakan kronologis hingga konsentrasi  kefokusan perjuangan terhadap agama dan perjuanga terhadap rakyat, akhirnya saya mengetahui siapa dan bagaimana sesungguhnya Wiranto itu, mulailah saya mengaguminya dan sejak itulah saya sering mengikuti kegiatan-kegiatan di Hanura bersama pak Wiranto. Dan Insyaalloh Hanura sudah menjadi pilihan politik saya untuk  memperjuangkan Rakyat yang tertinda, menegakan amar ma’ruf dan nahi munkar. Saya telah di tunjuk oleh DPP untuk menjadi perwakilan dari daerah Garut dan Tasik.
Kesimpulan.
Saya sebagai aktifis tentunya saya telah analisa apa yang menjadi langkah politik saya ini, saya tidak ingin berpolitik tanpa nurani .saya ingin hidup saya bermanfaat untuk masyarakat banyak, bukan untuk saya pribadi. Saya ingin saat saya meninggal mereka mendo’akan saya untuk kebahagiaan di alam kubur dan saya tidak ingin di hari akhir kelak saya penuh dengan siksa dan azab akibat perilaku kebijakan dan kesalahan dalam berpolitik. Mohon do’a dan dukungannya, mari kita berjuang bersama. Teguhkan Nurani,Tegakan Kebenaran…Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar