Halaman

Jumat, 25 Juni 2010

Orang-orang Pilihan

Ada yang menarik ketika majalah Swa dan MarkPlus Professional Service menobatkan empat pemimpin puncak terpuji: Teddy Rachmat dan Rini Suwandi serta Mochtar riady dan Rachman Halim – masing-masing dilangsungkan di Hotel Grand Hyatt, Jakarta dan di Hotel Hyatt Regency, Suarabaya. Orasi Teddy dan Mochtar sama-sama mencekam hadirin.
Teddy berbicara tentang kerja sama tim di kelompok perusahaan Astra. Ia menguraikan tentang visi Astra tahun 2000 dan strategi dasar untuk mencapainya. Teddy menganggap dirinya sebagai pilot, yang akan mengantar Astra ke tujuan tersebut. Lalu, Rini? Tiga tahun yang lalu, pada waktu Astra sedang oleng, peran Rini sebagai direktur keuangan, yang disebut Teddy sebagai co-pilot, sangat membantu.
Astra disebut Teddy sebagai suatu perusahaan yang punya tujuan jangka panjang. Ia menyebut pembinaan sumber daya manusia merupakan hal sangat penting, di samping penetapan strategi bisnis yang tepat.
Sedangkan Mochtar, yang sudah berusia 66 tahun tapi masih segar, banyak berbicara tentang pengalaman pribadinya. Definisinya tentang inovatif sederhana saja, yaitu bagaimana menjadi penjaja kelas satu (the first class salesman)-orang yang bisa menjual konsep dengan cara menyakinkan orang lain supaya mau mendukung idenya.
Sejak dulu, Mochtar memang selalu punya ide brilyan. Dulu orang berpikir, Mochtar cuma jago di bank. Belakangan orang merasa surprise ketika melihat bagaimana Lippo bisa begitu cepat melaju di bisnis properti. Mochtar memang selalu berusaha berpikir keluar dari paradigma tradisional. Produk-produk baru yang diluncurkannya selalu beda dengan yang lain mulai Tahapan, Lippo City, Lippo Village, Lippo Star Card sampai ke Warisan.
Dalam konsep kepemimpinan Kouzes dan Posner, yang ajdi lAndasan pemilihan pemimpin puncak kali ini, dijelaskan ada lima karakter dasar yang penting. Menghadapi tahun 2000, seorang pemimpin harus bisa melihat kesempatan, melakukan eksperimen, dan berani mengambil resiko karena dia diharapkan bisa melakukan perubahan. Kata perubahan (change) jadi kata kunci bagi seorang pemimpin masa depan. Selain itu, ia juga harus punya visi jauh kedepan. Dan bisa membuat orang lain dalam organisasinya mengerti dan percaya. Tanpa kemampuan seperti itu, sang pemimpin hanya bisa mengajak orang lain untuk “lari di tempat”.
Setelah itu, seorang pemimpin harus bisa memantapkan organisasinya, yang terdiri dari berbagai jenis manusia. Masa depan yang akan kita masuki memberi peluang besar pada terjadinya perbedaan. Seorang pemimpin harus mampu membangun di atas perbedaan tersebut. Suatu organisasi yang mantap bukan cuma solid orang-orangnya, melainkan juga punya kapasitas untuk bergerak. Kata kunci di sini empowerment.
Seorang pemimpin harus bisa merupakan model bagi orang lain dan bisa membuat prgram-program kecil supaya terkesan ada sasaran antara menuju ke suatu tujuan jangka panjang. Akhirnya, seorang pemimpin harus bisa bicara dengan hati kepada anggotanya. Bukan cuma bisa menghargai suatu pencapaian prestasi orang lain, melainkan juga merayakan suatu keberhasilan. Lima konsep dasar dari Kouzes dan Posner ini jadi relevan pada saat ini, karena situasi persaingan yang makin meningkat.
Pada saat suatu situasi industri masih bersifat monopoli, maka suatu organisasi cukup berorientasi pada produksi. Dalam situasi ini, pemimpin yang dibutuhkan adalah orangyang bisa memacu produktivitas. Ini yang disebut model task oriented leadership.
Kalau situasi sudah bergeser, pesaing sudah ada tapi masih lemah, maka organisasi biasanya berorientasi pada penjualan. Pada situasi seperti itu, seorang pemimpin harus menjual idenya kepada orang lain. Persaingan yang makin meningkat menyebabkan suatu perusahaan harus berorientasi pada pemasaran. Artinya, organisasi itu harus mengetahui need and want dari konsumen sebelum membuat dan menjual produk atau jasa. Analoginya, pemimpin juga harus melihat situasi anakbuahnya. Karena itu, konsep situational leadership gaya kepemimpinan harus disesuaikan dengan situasi kedewasaan bawahan dari Hersey dan Blanchard pernah jadi begitu terkenal.
Kalau situasi pesaing terus meningkat, gaya kepemimpinan seperti itu sudah tidak memadai lagi. Suatu organisasi market driven, yang harus melayani pasar yang makin terpecah, memerlukan gaya kepemimpinan lain lagi. Karena itu, Izac Adizes lantas bicara tentang perlunya seorang itergrator dalam perusahaan.
Akhirnya, ketika suatu organisasi sudah harus jadi customer driven company sering saya sebut sebagai organisasi 4C maka si pemimpin benar-benar harus bersifat service oriented. Setiap orang harus jadi service provider . Sebuah perusahan baru bisa memberi pelayanan kepada pelanggan kalau pemimpinnya sendiri merupakan model service provider bagi orang lain. Itulah konsep kepemimpinan Kouzes dan Posner yang terlihat dalam figur Teddy Rachmat dan Mochtar Riady pada waktu membawakan orasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar