Halaman

Senin, 12 Juli 2010

Jadilah Karyawan biasa yang luar Biasa



Mungkin Anda kaget membaca judul ini.namun saya selalu berprinsip "Manjadda Wajadda", siapa yang sungguh sungguh pasti bisa. dalam pandangan saya semua manusia itu sama, Alloh memberikan kelebihan dari yang satu dengan lainnya adalah merupakan kudroti, tapi bukan berarti sesuatunya adalah fatalism atau takdir yang tidak bisa berubah, dalam suatu ayat dalam Alqur'an mengatakan, "Alloh tidak akan merubah nasib sesuatu kaum kalau kaumnya itu tidah mau merubahnya" artinya disini nampak dinamisasi kehidupan manusi yang mana hanya manusianyalah sendiri yang mampu melakukannya, kalau kata Reinald Kasali adalah Change atau perubahan, saya mengajak saudara mulai detik ini merubah....setidaknya merubah paradigma saudara yang mungkin masih menganggap ini adalah :NASIB", kalau masih berpandangan seperti ini ya sudahlah, berarti anda tidak akan menjadi luar biasa saudara hanya biasa biasa saja...

statemen saya hanya karyawan tidak mungkin saya kaya....jelas adalah pembunuhan karakter dan pengkotakan diri sehingga ketika anda berniat untuk keluar kotak pun sangat sulit kecualidengan dorongan besar untuk mewujudkan visi besar yang terangan dalam setiap jiwa saudara.

Ya, buat saya, memang tidak mudah memberikan pernyataan menantang seperti itu,
apalagi kalau harus saya tulis di blog ini. Akan tetapi, harus kita akui, beberapa
tahun terakhir ini, masyarakat kita seperti dibombarbir pernyataan-pernyataan yang
memekakkan telinga seperti ini:
“Jangan mau seumur hidup jadi orang gajian …”
“Mau kaya? Jangan jadi karyawan …”
“Buka Usaha Sendiri adalah kunci menuju kekayaan …”
“Kerja jadi karyawan mah gak akan bisa kaya …”
“Penghasilan gue sih segini-segini aja. Nggak akan pernah bisa gede. Maklum, kuli
…”
… dan seterusnya.
Kalau Anda perhatikan, pernyataan-pernyataan tersebut kebanyakan diungkapkan
oleh mereka yang ingin memotivasi Anda bahwa kalau mau kaya, Anda harus
mempunyai usaha sendiri.
Bahkan, bukan satu dua kali saya melihat buku-buku yang membahas pentingnya
Anda membuka usaha sendiri kalau ingin kaya.
Saya tidak melihat satu pun karyawan yang mencoba membantah opini itu secara
terang-terangan di ruang publik, baik berupa pemikiran di media cetak, media
elektronik maupun di buku seperti yang akhirnya saya tulis sekarang.
Kebanyakan mereka hanya diam, bahkan mungkin setuju dengan penyataan itu.
Nah, repotnya, bagi kebanyakan orang sulit untuk tidak mendapatkan penghasilan
kalau tidak menjadi karyawan. Banyak di antara mereka yang─walaupun memiliki
modal untuk bisa buka usaha─lebih memilih bekerja sebagai karyawan agar bisa
Rahasia Menjadi Kaya …mendapatkan penghasilan rutin dan tetap. Banyak dari mereka yang memutuskan menjadi karyawan karena merasa tidak mempunyai bakat─bahkan tidak mempunyaikeinginan─untuk membuka usaha. Menjadi karyawan, bagaimanapun, adalah
keinginan terbesar yang muncul pada sebagian besar orang di perkotaan bila ingin
mendapatkan penghasilan.

Bahkan mereka yang lulusan dari perguruan tinggi terkenal pun sering kali tidak ingin
menjadi pengusaha; mereka hanya ingin bekerja sebagai karyawan.
Saya tahu ada banyak motivasi yang diberikan orang-orang di sekitar Anda tentang
pentingnya Anda membuka dan menjadi owner dari usaha milik Anda sendiri.
Terhadap keinginan itu, saya hanya ingin mengatakan bahwa kalau Anda memang
mau menjadi pemilik usaha, ya nggak apa-apa. Namun, tidak ada salahnya juga ‘kan
kalau Anda tetap memutuskan untuk menjadi karyawan?
Iya dong. Menjadi karyawan adalah pilihan yang harus dihormati. Logikanya saja
deh, kalau tidak ada orang yang mau jadi karyawan di dunia ini, siapa yang akan
menjalankan bisnis? Tidak ada, kan? Jadi, kalau Anda seorang karyawan, jangan mau
terprovokasi tentang tidak perlunya menjadi karyawan lama-lama. Oleh karena,
bagaimanapun, karyawan dan pengusaha adalah mitra yang sama-sama menjalankan
bisnis.
Cuma saja, karyawan─tentu saja─memiliki hak yang berbeda dengan si pengusaha. Si
pengusaha, yang biasanya pada awalnya juga menjadi pimpinan di perusahaan
tersebut, berhak memecat si karyawan, sementara si karyawan tidak berhak memecat
bosnya.
Satu lagi, banyak pendapat di luar sana─terutama di kalangan wiraswastawan─yang
sering kali “melecehkan” pekerjaan sebagai karyawan. Pelecehan utamanya adalah
bahwa dengan menjadi karyawan Anda tidak akan pernah bisa kaya.
Huh, kata siapa?
Pertanyaan saya, pernahkah Anda melihat karyawan yang kaya? Jangan bilang tidak
pernah. Saya pernah melihatnya. Bahkan sering. Bukan satu dua kali saya melihat ada
banyak karyawan yang bisa hidup makmur, dan tetap menjadi karyawan sampai
pensiun. Sebaliknya, banyak juga di antara karyawan yang kebetulan belum makmur,
kemudian mereka datang ke kantor kami, berkonsultasi, dan setelah itu, dalam
beberapa tahun ia mulai bisa menumpuk kekayaan satu demi satu. Dari sinilah saya
lalu berani mengeluarkan kesimpulan: “Jadi karyawan juga bisa kaya …."

Sebelum memberi tahu bagaimana caranya seorang karyawan bisa mencapai
kekayaan, saya ingin memberi tahu terlebih dahulu tentang kesalahpahaman yang
selama ini terjadi di masyarakat kita. Bahkan, kesalahpahaman ini kadang-kadang
melekat dan tertulis pada kebanyakan buku wirausaha yang sering kali menyarankan
orang untuk tidak menjadi karyawan kalau ingin kaya. Apa itu? Yaitu, banyak orang
yang menyamakan kata “kaya” dengan “penghasilan tinggi”.
Kalau orang mengatakan bahwa “Jika Anda mau kaya, jangan jadi karyawan”,
maksud sebenarnya adalah bahwa “Kalau Anda mau penghasilan tinggi, ya jangan
jadi karyawan karena penghasilan Anda biasanya terbatas dan dijatah oleh orang lain.
Dengan demikian, kalau menunggu penghasilan Anda tinggi mungkin masih akan
sangat lama.”
Lihat bedanya? “Penghasilan Tinggi” adalah bahwa Anda mendapatkan uang masuk
(cash flow) yang besar setiap bulan, sedangkan “Kaya” adalah seberapa banyak Anda
bisa menyisihkan, menyimpan, dan menumpuk aset dari penghasilan yang Anda
dapatkan. Jadi, perbedaannya: kata “Penghasilan Tinggi” berhubungan dengan cash
flow, sementara kata “Kaya” berkaitan dengan seberapa banyak aset yang bisa Anda
dapatkan dari penghasilan tinggi itu.
Nah, masalahnya, dari pengalaman saya, sering kali “penghasilan tinggi” tidak
menjamin Anda bisa “kaya”. Saya sering melihat ada banyak orang yang punya
penghasilan tinggi, bahkan sangat tinggi, entah di kantor atau di bisnisnya, tapi karena
dia tidak bisa mengelola uangnya (entah karena boros atau karena nggak pinter
mengelola), dia tidak juga kaya. Sebaliknya, saya sering melihat ada banyak orang
yang penghasilannya terbatas, tapi karena dia pintar mengelola, dia bisa hidup kaya
dan makmur.
Contohnya, banyak pengusaha─sekali lagi, pengusaha─yang biarpun punya
pemasukan besar dari usahanya, tetapi hidup sangat boros. Akhirnya, ia tidak pernah
bisa memiliki aset apa-apa dan tidak pernah bisa “Kaya” karena penghasilannya selalu
habis. Sebaliknya, banyak karyawan─sekali lagi, karyawan─yang penghasilannya
terbatas, tapi karena dia bisa mengelola penghasilan dengan sangat baik, dia bisa
mengembangkan uangnya yang sedikit itu menjadi besar dan akhirnya bisa “kaya”. Di
usia tua, dia malah bisa hidup makmur.
Kesimpulannya?
“Karyawan memang memiliki keterbatasan dalam hal penghasilan. Namun, untuk
menjadi kaya, Anda tidak perlu harus menunggu sampai punya penghasilan besar.
Anda tetap bisa kaya berapa pun penghasilan Anda karena kemampuan Anda
mengumpulkan kekayaan tidak dilihat dari berapa besarnya penghasilan, tapi dari
bagaimana Anda mengelola penghasilan itu.”
Mantaaap.

Jadi, mulai sekarang, kalau Anda kebetulan berprofesi sebagai seorang karyawan,
jangan lagi pernah minder kalau bertemu dengan teman Anda yang pengusaha. Teman
Anda yang pengusaha mungkin saja punya penghasilan yang besar dan tidak terbatas
hingga bisa berkali-kali lipat penghasilan Anda sebagai karyawan.
Namun, kalau dalam soal mengelola penghasilan, dia belum tentu lebih baik dari
Anda sehingga bisa saja Anda-lah yang lebih kaya dalam soal finansial daripada
teman Anda yang pengusaha itu. Banyak koq karyawan yang sudah bisa mencapai
banyak hal dalam hidupnya, seperti rumah sendiri, kendaraan sendiri, tabungan,
deposito, dan sejumlah investasi lain, sementara temannya yang pengusaha yang
usianya sama dan sudah lama menjalankan usahanya belum mencapai apa-apa dalam
hidupnya, padahal penghasilan usahanya cukup besar.
Jadi, bedakan antara “kaya” dan “penghasilan tinggi”. Itu adalah 2 hal yang sangat
berbeda.

Anda tetap bisa kaya walaupun bekerja sebagai seorang karyawan. Asyik, kan?
Sekarang, beberapa dari Anda mungkin bertanya: “Bagaimana caranya saya bisa
menumpuk kekayaan kalau penghasilan sebagai karyawan di kantor tidak besar?”
Jangan kaget, dari pengalaman saya memberikan materi tentang pengelolaan
keuangan, ada 3 pemikiran yang harus Anda miliki sebagai seorang karyawan:
1. Berapa pun gaji yang diberikan perusahaan kepada Anda, tidak─sekali lagi
tidak─menjamin apakah Anda bisa menumpuk kekayaan. Kalau penghasilan
Anda sekarang Rp.2 juta per bulan, Anda pikir hidup Anda akan lebih baik dan
Anda bisa menumpuk kekayaan kalau perusahaan Anda memberikan gaji Rp.5
juta per bulan? No way, Maan …

Belum tentu. Anda sering dengar nggak: ada banyak orang yang bolak-balik
pindah perusahaan hanya karena mengejar gaji yang lebih tinggi? Kenyataannya,
setelah ia pindah dan punya gaji yang lebih besar, gajinya teteeeeup saja habis
tanpa ada kekayaan yang bisa ditumpuk. Ini karena berapa pun gaji yang Anda
dapat, tidak menjamin apakah Anda bisa menumpuk kekayaan, yang menjamin
adalah bagaimana cara Anda mengelola gaji tersebut, termasuk kalau gaji itu
benar memang ngepas dengan kondisi Anda sekarang.
2. Jangan selalu menjadikan kondisi Anda di rumah─entah Anda banyak
tanggungan, banyak utang, atau boros─sebagai alasan untuk selalu minta
naik gaji. Tahu nggak, kalau Anda mendapat gaji dengan jumlah angka tertentu,
pastilah perusahaan Anda sudah memiliki hitungan sendiri terhadap besarnya
jumlah gaji yang diberikan.
Contoh ya: kalau perusahaan memberikan gaji pada Anda sebesar Rp.2 juta per
bulan, angka itu adalah angka yang memang sudah disesuaikan dengan jabatan
dan daftar pekerjaan (job description) yang harus Anda lakukan setiap harinya.
Perusahaan tidak akan memberi Anda gaji yang juga lebih besar hanya karena
Anda belum punya rumah, belum punya motor, dan selalu kehabisan uang di
tengah bulan.
Perusahaan hanya akan memberi Anda gaji sesuai dengan job description Anda,
bukan disesuaikan dengan situasi dan kondisi di rumah Anda. Artinya, kalau anda
merasa bahwa gaji Anda koq sepertinya nggak cukup untuk membiayai keluarga
Anda yang anaknya banyak, yah, itu bukan salah perusahaan Anda. Toh ketika
anda menambah anak, Anda nggak minta izin dulu ‘kan ke perusahaan?
3. Menjadi kaya bergantung 100% pada apa yang Anda lakukan terhadap
keuangan Anda, tidak selalu pada apa yang diberikan perusahaan kepada
Anda. Ya, dalam soal menumpuk kekayaan: you are on your own. Itu urusan
Anda sepenuhnya. Menjadi kaya bergantung pada apa yang Anda lakukan, dan
tidak selalu pada apa yang diberikan perusahaan kepada Anda. Memang sih, akan
enak memang kalau perusahaan memberikan banyak hal kepada Anda sebagai
karyawannya. Akan tetapi, kalau Anda mau kaya, itu semua bergantung pada apa
yang Anda lakukan terhadap penghasilan dan fasilitas yang Anda dapatkan.
Saya sering kali melihat ada banyak orang yang pindah kerja, berharap gaji yang
lebih besar dengan harapan untuk jadi kaya, tapi ia sendiri tidak melakukan apaapa
untuk bisa menjadi kaya. Ia tidak berusaha untuk jadi lebih hemat, ia tidak
berusaha untuk menambah pengetahuannya agar bisa jadi kaya, ia tidak berusaha
mengetahui apa cara yang baik dalam mengelola gajinya, dan tidak berusaha
untuk berubah. Ia hanya meloncat dari satu perusahaan ke perusahaan lain untuk
mendapatkan gaji yang lebih besar agar bisa jadi kaya. Kenyataannya, untuk
menjadi kaya sepenuhnya bergantung pada Anda, tidak selalu pada apa yang
diberikan perusahaan kepada Anda.
Itulah 3 hal yang harus ada di pikiran Anda sebelum memutuskan untuk menjadi kaya
sebagai seorang karyawan.

Bagaimana Caranya?
Banyak orang yang bertanya ke saya: “Pak, kayaknya kok nggak mungkin ya
kita bisa jadi kaya dengan menjadi seorang karyawan? Kalau kaya karena profesinya
pengusaha sih mungkin-mungkin saja. Itu masuk akal. Tetapi, sebagai karyawan?
Memang sih saya pernah melihat ada yang bisa kaya. Tetapi bagaimana caranya kalau
jabatan si karyawan di perusahaan tidak tinggi-tinggi amat? Apa bisa?”
Jawab saya: “BISA …!”
Rahasianya sebetulnya adalah dengan memaksimalkan penghasilan yang Anda
dapatkan. Saya kasih contoh ya: misalkan saja penghasilan Anda sebulan─katakan
saja─Rp.1,5 juta. Anda berkeluarga dengan 1 orang anak. Nah, rahasia untuk bisa jadi
kaya sebetulnya adalah dengan bertanya kepada diri Anda sendiri, seberapa besar dari
Rp.1,5 juta tersebut setiap bulannya yang bisa Anda sisihkan di luar pengeluaranpengeluaran
Anda? Nantinya, bagian yang disisihkan ini harus diputar sedemikian
rupa sehingga nantinya bisa menjadi aset dan membantu Anda menjadi kaya.
Aset di sini maksudnya tentu saja aset yang kelak nantinya bisa memberikan
penghasilan buat Anda. Jadi, di luar gaji, kelak nanti Anda juga akan mendapatkan
penghasilan yang sifat nya pasif dari aset tersebut, yaitu penghasilan yang bisa Anda
dapatkan walaupun Anda diam dan tidak lagi bekerja.
Oke, katakan saja dari Rp.1,5 juta perbulan tersebut Anda mampu menyisihkan
Rp.250 ribu per bulan. Nah, Rp.250 ribu per bulan inilah yang harus Anda putar untuk
bisa dijadikan aset.
Pertanyaannya, bagaimana cara memutar Rp.250 ribu per bulan itu agar bisa
ditumpuk dan dijadikan aset buat Anda kelak? Tentunya ada lagi pelajaran tentang
investasi yang perlu Anda ketahui. Hanya saja, Rp.250 ribu per bulan itu bisa Anda
putar dengan untung yang sedikit atau besar, atau dengan tingkat kecepatan yang
cepat atau lambat. Semuanya kembali kepada Anda.
Sekarang, Anda mungkin akan bertanya: “Kapan bisa kaya kalau jumlah yang diputar
setiap bulan hanya Rp.250 ribu?” Jawab saya: “Anda harusnya bersyukur. Jumlah
Rp.250 ribu per bulan jauh lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Kalau Anda
berprofesi seperti saya, sebagai seorang Perencana Keuangan, Anda akan kaget
karena sering bertemu dengan klien yang punya penghasilan Rp.5─10 juta sebulan,
tapi tidak bisa menyisihkan hanya Rp.100 ribu per bulan. Jadi Anda harusnya
bersyukur masih bisa menabung biarpun cuma Rp.250 ribu per bulan. Kenyataannya,
Anda mungkin akan dapat bonus juga setiap tahun. Itu ‘kan bisa jadi tambahan juga
buat Anda”

Pertanyaan lain: “Gimana cara memutar uang yang hanya Rp.250 ribu per bulan
untuk bisa tumbuh besar dan menjadi aset buat saya kelak?” Jawab saya: “Semua
bergantung pada ke mana Anda memutar uang tersebut. Namun, percayalah, kalau
Anda rutin dan konsisten menyisihkan uang setiap bulan untuk diputar dalam bentuk
investasi, dalam jangka panjang aset Anda tumbuh luar biasa.”
“Walaupun penghasilan Anda sebagai seorang karyawan
umumnya dibatasi, tetapi Anda juga bisa menumpuk
kekayaan bila Anda tahu bagaimana caranya.”
Masalahnya, bagaimana kalau Anda tidak bisa menyisihkan penghasilan untuk
ditabung dan diputar dalam bentuk investasi? Jujur saja, kalau Anda tidak bisa
menyisihkan penghasilan untuk ditabung dan diputar dalam bentuk investasi,
penyebabnya bisa macam-macam. Akan tetapi, apa pun alasannya, berapa pun
penghasilan Anda, harus ada yang bisa disisihkan. Memang, kalau gaji Anda Rp.1,5
juta per bulan dan Anda mencoba menyisihkan uang untuk diinvestasikan, Anda
mungkin tidak lagi bisa hidup dengan Rp.1,5 juta per bulan, tapi lebih rendah dari
jumlah itu. Yaah, anggap saja itu konsekuensi yang harus Anda lakukan untuk bisa
jadi kaya dengan penghasilan yang terbatas.

Itulah sebabnya, pada salah satu kiat disini, akan kita bahas juga tentang
bagaimana Anda bisa mengatur pengeluaran Anda agar─ujung-ujungnya─Anda bisa
menyisihkan penghasilan untuk diinvestasikan. Tentunya, semakin besar penghasilan
Anda, biasanya sih, harusnya akan jadi lebih mudah bagi Anda untuk meyisihkan
jumlah yang lebih besar lagi.

Sebagai contoh, saya bukan ingin mengatakan kalau saya ini sukses secara financial namun setidaknya kita memiliki motivasi besar untuk itu, kecintaan terhadap institusi dimana kita bekerja merupakan sesuatu yang sangat rasional dan kemestian namun rasionalitas itu juga harus proporsional sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kita. saya mungkin tidak ingin terlalu fulgar membuka trik atau tips yang saya jalani dari bisnis yang berjalan, karena usaha yang saya jalani betul-betul berprinsip:
1.BOTOL : Bisnis dengan tangan orang lain
2.BOBOL : Bisnis dengan biaya orang lain
3.BODOL : Bisnis dengan dana orang lain
4.BETUL : Bisnis dengan untung langsung
5.BAGUS : Bisnis Ala Gue Sendiri

maaf ini hanya pemikiran yang saya jalani selama ini, ketika saya mmulai usaha dan jatuh bangun maka tentunya kehawatiran akan jatuh lagi sangat besar, mungkin bisa dikatakan saya saat ini belum berani all out untuk usaha mandiri, karena menganggap uang berputar dan orang yang menjalani dan kita yang dapat untung,makanya saya bilang ini bisnis "ala gue sendiri", mungkin saya kasih sedikit contoh

ketika saya ke Singapore, tahun 2001, sekitar dua hari saya keliling - keliling di pusat bisnis dan perbelanjaan, ketika saya mau kembali pulang saya sempatkan mampir di salah satu tempat hiburan keluarga dekat Changi, saat saya masuk ada sesuatu yang unik sebuah tempat hiburan yang full need, orang disitu mau santai di louge yang nyaman bisa, mau makan menu apa saja ada, mau sambil nonton dengan film pilihan sendiri bisa, mau karaoke dengan private room bisa, badan pegel mau masage bisa, artinya semua keinginan pengunjung terfasilitasi...ketiga kembali pulang selalu terpikir dalam benak saya jika suatu saat saya bisa buka usaha seperti di singapore tersebut, singkatnya saya buka tempat usaha yang spesifikasinya tidak beda dengan itu walaupun kapasitasnya masih kecil namun animo masyarakatnya cukup tinggi saya buka pertama di daerah R Sutami-Bandung, dengan nama Minimax, setelah hampir 2 tahun berjalan saya merasa masih stagnan, akhirnya saya bertemu seorang pengusaha sukses di bandung dan melihat konsep ini salah satu memiliki peluang bagus dan unik, singkatnya kami join dan memperbesar usaha tersebut di daerah DAGO Plaza dengan memiliki louge cukup lumayan, room berjumlah 23 dan karyawan kami saat ini sekitar 17 orang, saat membuka di dago tersebut, sepeserpun saya tidak keluar uang, yang keluar hanya konsep/ide serta keberanian, alhamdulillah rata-rata penghasilan dari Minimax kami per hari bisa encapai omset sedikitnya 10 jt apalagi kalo hari-hari libur cukup ramai, sehingga ada kolega yang mau join dan sekarang sedang proses develoment untuk cabang kami pertama di daerah yang berbeda"sambil promosi nih, kalo penasaran silahkan berkunjung ke tempat kami di dago Plaza bandung lt 2'Minimax Louge Family Movie & Karaoke", buat keluarga besar LP3I atau rekan di blog ada harga special deh...

ini adalah salah satu usaha yang dimodalkan keberanian dan tanpa biaya, mari mulai saat ini kita berfikir kreatif dan innovatif dengan berani membuka usaha mandiri tanpa menggagu kinerja kita sebagai karyawan....salam sukses untuk anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar