Halaman

Selasa, 06 Maret 2012

Statemen Bodoh Partai Demokrat

 

Karena menyebutkan pengacara Nazaruddin, Elza Syarief adalah kader Hanura yang mempunyai misi khusus melalui perannya itu untuk menghancurkan Demokrat di sidang pengadilan, dan menyebutkan bahwa Wiranto mempunyai rencana makar menggulingkan SBY, maka Ketua Umum Hanura itu pun membalasnya dengan antara lain mengatakan bahwa Ramadhan Pohan – petinggi Partai Demokrat yang mangatakan hal itu, telah membuat pernyataan yang bodoh.

“Pernyataan Ramadhan Pohan itu bodoh!” Kata Wiranto.
Ramadhan Pohan mengaku kaget (dan marah) karena Ketua Umum Partai Hanura, Wiranto menyebutkan pernyataannya itu sebagai pernyataan yang bodoh.
“Saya kaget, Pak Wiranto menyebut istilah ‘bodoh” yang mengarah ke personal saya. Ini jauh dari karakter bapak bangsa, negarawan, ataupun purnawirawan sejati. ….”
Berbicara soal menyebut-nyebut petinggi Demokrat itu sebagai orang(-orang) bodoh sebenarnya bukan pertamakali ini saja, dan bukan pula Wiranto satu-satunya orang yang pernah bilang begini.
Sebelumnya, yang juga pernah menyebutkan kader / petinggi Partai Demokrat bodoh justru adalah Ketua Dewan Pembinanya sendiri, SBY. Ketika Angelina Sondakh yang sudah dinyatakan sebagai tersangka oleh KPK malah dipindahkan (oleh Ketua Fraksi Jafar Hafsah) dari Komisi VIII ke Komisi III yang membidangi hukum. Waktu itu menurut Andi Mallarangeng, SBY marah besar. Saking marahnya SBY mengatakan bahwa tindakan itu adalah tindakan yang sangat tidak cerdas. “Sangat tidak cerdas” adalah penghalusan dari kata “bodoh”.
Jadi, sebelum Wiranto mengatakan pernyataan Ramadhan Pohan itu bodoh, SBY sendiri sudah lebih dulu mengatakan hal serupa kepada kadernya sendiri.
Apabila Ramadhan Pohan konsisten dengan penilaiannya terhadap Wiranto, maka seharusnya penilaiannya juga berlaku bagi SBY, yakni menurut Ramadhan, menyebutkan seseorang itu “bodoh”, bagi pengucapnya, ini jauh dari karakter bapak bangsa, negarawan, ataupun purwirawan sejati.
Yang bilang petinggi Demokrat banyak orang bodohnya, bukan hanya kali ini saja terjadi. Dan, bukan hanya Wiranto, dan SBY saja yang pernah mengatakan demikian.
Sebelumnya sudah cukup banyak orang yang menilai dan mengatakan demikian. Kata mereka, tidak heran, karena di Demokrat itu banyak politikus oportunis, jadian, dan karbitan.
Ketika terjadi pemindahan Angelina Sondakh ke Komisi Hukum, padahal yang bersangkutan baru saja dinyatakan sebagai tersangka oleh KPK sudah banyak orang yang sangat terkejut mendengarnya. Maka sebutan-sebutan bodoh, konyol dan sejenisnya pun diarahkan ke Demokrat. Bahkan anggota Dewan Pembina Demokrat sendiri, antara lain Hayono Isman pun turut mengatakan bahwa itu sebagai tindakan yang bodoh.
Belum reda heboh dari DPR itu, keluar lagi pernyataan konyol lainnya dari kader Demokrat lainnya, Jemmy Setiawan yang menyerukan supaya semua kader Demokrat memboikot media, karena selama ini terus menyudutkan Demokrat dengan berita-beritanya. Maka lontaran kata bodoh pun berkumandang kepada Demokrat. Para petinggi Demokrat lain pun buru-buru membantah pernyataan bodoh dari Jemmy Setiawan itu.
Di Metro TV, pada 1 Agustus 2011 lalu, Pakar Hukum Pidana, J.E Sahetapy juga pernah mengatakan bahwa pernyataan Ketua DPR Marzuki Alie, yang juga adalah Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat sebagai pernyataan sampah. Berkaitan dengan pernyataan Marzuki Alie tentang pengampunan terhadap koruptor, dan mewajibkan mereka membayar pajak dari hasil korupsinya itu.
Pengamat Politik dari Study for Indonesia Government Indepth (SIGI), Medial Alamsyah, di Matanews.com, dengan tegas menyatakan Marzuki Alie adalah salah satu produk gagal dari sekian banyak politikus bodoh dari Demokrat. Dia merasa heran, kenapa Partai Demokrat bisa memiliki kader seperti Marzuki.
“Kenapa orang macam Marzuki begitu banyak di Partai Demokrat? Dia (Marzuki) lolos menjadi anggota DPR, ‘kan aneh? Apalagi kok bisa menjadi petinggi!” katanya (Matanew.com, 1 Agustus 2011).
*
Bagaimana dengan pernyataan Ramadhan Pohan sendiri tentang misi terselubung pengacara Nazaruddin, Elza Syarief, seorang pengacara ulung yang juga kader Hanura itu? Ramadhan juga antara lain mengatakan bahwa sangat tidak pantas seorang petinggi Partai hanura menjadi pengacara bagi Nazaruddin. Karena pasti terjadi konflik kepentingan, yang membawa misinya untuk menghancurkan para petinggi Demokrat melalui sidang pengadilan itu.
Bagaimana juga dengan tudingan makarnya kepada Wiranto?
Apakah termasuk pernyataan-pernyataan dan tuduhan yang bodoh juga?
Yang sudah pasti telah keluar keterangan dari DPP Partai Demokrat melalui Ketua Komunikasi dan Informasi PD, Andi Nurpati bahwa pernyataan Ramadhan Pohan tersebut tidak mewakili partainya, tetapi merupakan pernyataan pribadinya. DPP PD juga akan segera memanggil Ramadhan untuk diminta keterangan dan pertanggungjawabannya atas tudingan makarnya kepada Wiranto itu (Metrotvnews.com, 06/03/2012).
Ini merupakan indikasi dari DPP PD bahwa ada benarnya Ramadhan Pohan telah dinilai membuat pernyataan yang sangat tidak cerdas lagi, alias bodoh.
Ramadhan Pohan mengatakan sangat tidak etis kalau Elza Syarief yang juga adalah petinggi Partai Hanura menjadi pengacara dari Nazaruddin. Karena patut dicurigai akan terjadi konflik kepentingan. Patut dicurigai pula membawa misi khusus untuk menyerang para petinggi Demokrat melalui sidang pengadilan tersebut.
Berbicara soal konflik kepentingan karena pengacara Elza itu juga adalah petinggi Partai Hanura, apakah Ramadhan lupa bahwa Menteri Hukum dan HAM yang sekarang juga adalah petinggi Partai Demokrat? Kalau mau bicara soal etika dan potensi terjadinya konflik kepentingan, justru posisi Amir Syamsuddin yang saat ini sebagai Menteri Hukum dan HAM merangkap anggota Dewan pembina Partai Demokrat-lah yang lebih patut dipertanyakan. Apalagi di tengah-tengah begitu banyaknya para petinggi Demokrat yang terkait kasus hukum.
KalauRamadahn boleh menuduh Elza Syarief melalui perannya sebagai pengacaranya Nazaruddin menyerang para petinggi Demokrat di pengadilan, maka kita juga boleh-boleh juga berprasangka bahwa Amir Syamsuddin dengan jabatannya sebagai Menteri Hukum dan HAM akan melindungi para kader Demokrat yang tersandung masalah hukum.
Tentang tuduhan Ramadhan Pohan kepada Wiranto yang hendak melakukan makar. Apabila benar-benar dia seorang politikus handal nan cerdas seharusnya Ramadhan lebih dari tahu bahwa tuduhan makar adalah sebuah tuduhan yang sangat, sangat serius dan peka sekali. Dia harus mempunyai bukti-bukti yang kuat untuk itu. Dan, bukan tempatnya untuk menyebarluaskan begitu saja informasi itu, tanpa lebih lanjut mempertanggungjawabkannya. Apakah dia pikir menjadi politikus itu lantas boleh seenak otaknya membuat pernyataan dan menuduh kiri-kanan?
Kita belum lupa dengan pernyataan dan tudingan Ramadhan Pohan juga pada 1 Juni 2011 lalu tentang orang dari luar Partai Demokrat berinisial A yang ingin menghancurkan partainya. Pada waktu itu juga sudah jelas orang ini hanya seenaknya menggunakan mulut dan otaknya membuat pernyataan dan tuduhan asal-asalan, tanpa mau mempertanggungjawabkannya.
Saya menyebutkan “mulut dan otak”, bukan “otak dan mulut”, karena kelihatannya dia berbicara dulu baru berpikir. Bukan sebaliknya.
Ketika itu Ketua Fraksi Demokrat, Jafar Hafsah sendiri dengan keras membantah tudingan Ramadhan Pohan tentang orang berinial A itu sebagai tudingan isapan jempol belaka. “Tidak ada politisi beriniasil A, yang ingin menghancurkan Demokrat!” tegas Jafar wakti itu.
“Kalau ada yang senang dengan apa yang terjadi di Demokrat saat ini pasti banyak, tapi kalau soal inisial A itu tidak ada. Tidak ada,” tegas Jafar ketika itu (detik.com, 01/06/2011).
Entah apa maunya Ramadhan Pohan dengan perbuatannya ini. Yang jelas akibat perbuatan salah satu petinggi Demokrat ini lagi-lagi justru semakin mempersulit posisi Demokrat di mata publik.
Mungkin benar, mereka sekarang sedang panik karena posisinya semakin sulit. Di tengah-tengah terus semakin merosotnya tingkat kepercayaan rakyat. Karena terus dirudung beraneka macam kasus hukum. Kepanikan dan ketakutan itu membuat mereka menjadi paranoid, ketika rencana pemerintah untuk menaikkan BBM mendapat penolakan dari banyak pihak. Ketika terjadi demontrasi dan pernyataan penolakan tersebut, karena paranoid, yang dilihatnya seperti orang-rang yang hendak melakukan makar.
Kita lihat saja, tindakan apakah yang akan diambil oleh DPP PD terhadap petingginya yang bernama Ramadhan Pohan ini? Apakah hanya sekadar dipanggil dan diminta ketarangnanya sebagai formalitas saja?
Kalau demikian yang terjadi, maka semakin benarlah bahwa Partai yang satu ini memang terdiri dari banyak petinggi yang tidak cerdas, tetapi terus dipelihara.
Perilaku Ramadhan Pohan ini ibarat perilaku anak kecil nakal yang tidak tahu tata-krama, sampai-sampai ada orang yang berkata kepadanya: “Nak, bilang, ya, sama papa-mama kamu, ajari kamu sopan-santun, ya?!”
Demikian pula yang diucapkan Elza Syarief dan Wiranto untuk Ramadhan Pohan.
Elza berpesan kepada Ramadhan: “Ia harus berhati-hati berbicara. Apalagi Partai Demokrat mengajarkan kadernya bertutur kata yang santun dan intelek!”
Sedangkan Wiranto berpesan: “Saya pesan ke Ramadhan Pohan, sebaiknya tanya langsung ke Ketua Dewan Pembinanya sebelum Anda berkomentar soal saya”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar